ldhena

༻✿༺

  • 🏡
  • Bercerita
    • Curhat
    • Esai
  • Beropini
  • Berkreasi
    • Masak-Masak
    • Karya

CATEGORY >

Punya kawan yang berprofesi sebagai guru, seringkali membuat saya harus menyesuaikan jadwal nongkrong dengan kalender akademik yang mereka punya. Termasuk untuk libur sekolah di pertengahan tahun ini. Jujur, gak terlalu sulit buat saya sebagai pekerja nomaden untuk tetap bisa kumpul bermain dengan mereka. Simpelnya, "gue ngikutin kalian aja".

Dua kawan saya ini sama-sama pengajar, Cibul guru SD dan Vita seorang guru SMK. Masing-masing sudah punya agenda untuk mengisi waktu liburan sekolah. Cibul rencana pergi ke Malang menemui adiknya yang kuliah di sana, sementara Vita ingin pergi ke Jogja mengikuti baking class (sebelum saya tahu alasannya, ini paling gak make sense jauh-jauh ke Jogja cuma buat belajar bikin kue).

Sebelumnya, wacana jalan-jalan bareng mereka memang sudah ada, tapi belum pernah kesampaian. Nah, jadilah momen libur sekolah kali ini yang sangat memungkinkan untuk direalisasikan rencana tersebut.

"Ayo ke Jogja", ucap Vita dalam chat WA-nya malam itu.
"Ayok dah", tiba-tiba saya menimpali pesan Vita itu dengan asbun. Padahal saya cuma basa-basi aja, jujur, paling gak jadi lagi😄. 

Ternyata, beneran jadi.

Bukan sekadar wacana, kali ini perjalanan ke Jogja kami beneran terealisasi. Menyiapkan itinerary, survei penginapan yang murah-murah, semua kami siapkan dengan serba mendadak. 

Bersua dengan kawan lama

Sebetulnya selain jalan-jalan, tujuan utama kami ke Jogja juga karena ingin menemui salah satu kawan lama kami sejak SMA, Budi namanya. Ups, sekarang panggil beliau Pak Budi, ya (maklum sekarang sudah jadi guru, sungkan manggil bad bud bad bud).
Lama tak jumpa, Budi justru sudah mem-branding dirinya sebagai Pak Nugi di sekolahnya. Gak ada yang berubah dari beliau, cuma keliatan lebih banyak brewokan saja.
Bersyukur dan merasa sangat senang bisa ketemu kawan lama yang mungkin setelah belasan tahun kami lulus SMA dan gak pernah ketemu lagi. 


Sekian jam kami nongkrong, saling bertukar kabar, cerita, nostalgia masa-masa sekolah dulu, happy betul rasanya. Melalui pertemuan ini, meski selalu ada momen-momen saling adu nasib "lo mah enak..." saya semakin menyadari bahwa setiap orang punya battlefield-nya masing-masing. Tapi harapan saya, semoga kalian selalu berbahagia dengan apa yang kalian jalani saat ini💖

Menemui kawan yang sudah lama tak berjumpa sepertinya menjadi salah satu bucketlist saya dalam waktu beberapa waktu ke depan (mumpung masih single dan bebas kemana-mana). Toh, jalin silaturahmi juga membuka banyak pintu-pintu rezeki, bukan? 

-jurnaldhena

Share on:
Dalam rangka malas jajan-jajan di luar untuk menu berbuka, kali ini saya coba recook resep bubur sumsum yang dulu suka dibuat oleh Almh. Mama. Beberapa kali beli bubur sumsum sebagai tajil berbuka puasa, tapi selalu kurang puas dengan tekstur dan rasanya. 
Namun, yang saya paling ingat dalam membuat bubur ini adalah butuh effort lebih dalam mengaduknya, supaya bubur menjadi kental merata dan tidak gosong. 

Dengan bahan-bahan yang sangat mudah ditemui di pasaran, langsung saja, berikut resep simpelnya (untuk 4-5 porsi).

Bahan-bahan bubur sumsum:
300 ml air
100 gr tepung beras
Secukupnya garam
400 ml santan (sudah berupa campuran 1 pcs santan kara instan dengan air atau full air santan kelapa asli is good) 
1 sdt essence pandan/selembar daun pandan

Resep air gula merah:
100 gr gula merah atau 3 pcs gula merah bulat
150 ml air
Secukupnya garam (ini sejumput saja sudah oke, hanya untuk memberi rasa gurih)
1 sdt essence pandan/selembar daun pandan

Cara membuat bubur sumsum:
  • Saring terlebih dulu tepung beras dengan saringan untuk menghilangkan kotoran dan mendapatkan tekstur tepung yang lembut.
  • Masukkan air ke dalam panci dan campurkan tepung beras. 
  • Tambahkan sedikit demi sedikit air santan, garam dan pandan.
  • Masak hingga mengental dan tidak ada tepung yang menggumpal. 
  • Aduk terus dengan api kecil maupun sedang hingga bubur menjadi lembut. Sebaiknya, jangan mengaduk bubur sampai ke dasar pinggiran panci, karena biasanya akan ada bagian bubur yang sudah mengerak dan rasanya pahit.
Tips!
Masak buburnya dulu biar fokus, jangan disambi masak air gula, biasanya lupa diaduk buburnya dan jadi gosong😁

Next, cara membuat air gula merah:
  • Masukkan air ke dalam panci, campurkan gula merah, pandan dan masak dengan api sedang, lalu aduk hingga merata.
  • Apabila sudah mendidih angkat dan saring air gula untuk menghilangkan ampas.
  • Sajikan bubur dengan dicampur air gula ketika ingin langsung disantap. 
Jika bubur dan air gula sudah tidak terlalu panas bisa masukkan ke dalam kulkas agar lebih awet. Buat saya pribadi, bubur sumsum pun akan lebih enak jika dimakan ketika dingin. So, let's recook this recipe and enjoy!



Share on:

Beberapa kali menonton karya Yandy Laurens, rasanya gak pernah mengecewakan. Mulai dari web series Sore, film Keluarga Cemara sampai Jatuh Cinta Seperti di Film-Film. Setiap karya yang disutradarainya membuat penonton tidak perlu berpikir terlalu berat. Ditambah lagi, saya belum pernah menemukan hal-hal yang cringe di setiap karya beliau, jadi semua terasa begitu pas. Ya, mungkin karena saya pecinta film/series yang ringan-ringan juga, jadi setiap karya Yandy Laurens selalu menyenangkan untuk ditonton sampai akhir.

In Yandy Laurens we trust!

Tahun ini, salah satu film karya Yandy Laurens rilis berjudul Satu Kakak Tujuh Ponakan. Film ini pun ternyata adaptasi dari sebuah sinetron di tahun 90an dengan judul yang sama. Saya belum pernah menonton series aslinya, tapi sudah cukup terbayang film ini akan berkisah tentang seseorang yang repot mengurus banyak keponakan (seperti saya😂). 

Film ini mengisahkan sosok Moko seorang mahasiswa arsitektur yang tinggal bersama keluarga Kakaknya (Agnes dan Atmo) dengan memiliki 4 orang anak. Sejak keponakan-keponakannya lahir, Moko tidak mau dipanggil sebagai "om", namun ia lebih suka jika disebut sebagai "kakak". 

Ketika Moko sudah memasuki tingkat akhir perkuliahannya, kakak iparnya (Atmo) dan tak lama kakak kandungnya (Agnes) meninggal dunia dalam jarak waktu yang berdekatan. Atmo meninggal dunia karena serangan jantung, sementara nyawa Agnes tidak terselamatkan ketika melahirkan anak keempaatnya, Ima. Alhasil, almarhum/almarhumah kakak dan kakak ipar Moko meninggalkan 4 orang anak yang harus diasuhnya (Nina, Woko, Ano, Ima).

Ponakannya cuma ada 4, terus 3 lagi mana? Yap, di sinilah satu per satu konflik mulai timbul. Ketika suatu hari, mantan guru les piano Moko bernama Pak Nanang menitipkan anaknya, Ais, untuk turut diasuh oleh Moko. Kebayang sih capeknya, mengurus 4 anak kecil saja rasanya sudah berat, lalu dapat amanah lagi buat mengasuh anak orang😖

"Pokoknya Ais janji akan jadi anak baik dan gak akan ngerepotin, sama sekali", ucap janji gadis berambut keriting ini kepada Moko. Dan janji itupun benar dipenuhi oleh Ais, karena Ais mampu menjadi anggota keluarga Moko yang menyenangkan, saling menyayangi satu sama lain dan sama sekali gak ngerepotin *peluk Ais*. 

1 kakak 5 ponakan 2 beban

Akan terjawab rasa penasaran "kenapa ada 7 ponakan?, dan yap, masalah yang sesungguhnya justru datang dari kakak kandung (Osa) dan kakak iparnya Moko (Eka). Kehadiran Mas Eka dan Kak Osa justru menjadi "beban" sesungguhnya bagi Moko. Bahkan Mas Eka sudah memvalidasi sendiri "Biasanya orang sungkan akan selalu dipertemukan dengan orang ga tau diri".

..boleh dong saling memperjuangkan?

Part romance memang paling menyenangkan, apalagi kalau couple-nya sama-sama greenflag. Jadi kalau dilihat hidup Moko kayaknya tuh sedih banget, ternyata engga juga, soalnya ada Maurin si support system terbaik yang selalu ada di sisinya. Bahkan di saat Moko berada di titik terendah sekalipun, Maurin masih setia buat nemenin Moko dan berjuang buat hubungan mereka. Ya Allah mau Maurin versi cowok😹

Film ini mendapatkan banyak respon positif di social media, walau memang saya sempat menemukan ada beberapa kritik karena katanya beberapa scene Moko as a anak arsi gak terlalu relevan di dunia arsitektur, apa iya? Bagi orang-orang awam seperti saya mungkin tidak terlalu menganggu, tapi bolehlah kalau ada anak arsi mau kasih komen silakan banget ya!

Sebuah film yang hangat, menyenangkan, gak menye-menye. Pas banget ditonton sama keluarga, teman maupun pasangan kalian. Recommended by jurnaldhena!⭐⭐⭐⭐

Share on:


Sambut tahun baru dengan resolusi-resolusi yang (mungkin) banyak belum tercapai di tahun lalu.
Gak papa. Kita coba lagi dari awal. Sudah bisa bertahan hingga saat ini juga sebuah pencapaian terbaik bukan?😌

-jurnaldhena
Share on:
Terima kasih Linda sudah bertahan hingga penghujung akhir 2024. Tahun yang begitu banyak kejutan di dalamnya. Rezeki berupa nikmat sehat dan nikmat iman yang selalu Allah SWT berikan, juga selalu menjadi penguat bagi diri ini untuk terus berjalan ke depan. 

Stroll around Indonesia


Salah satu hal yang paling disyukuri dari pekerjaan saya adalah kesempatan untuk keliling Indonesia. Tahun ini, bersyukur banget Alhamdulillah bisa sampai ke Palembang, Bandung, Mataram, Samarinda💖

Scalling gigi for the first time!


Selalu ada hal pertama dalam hidup dan yap! Inilah kali pertama seumur hidup saya ke dokter gigi wkwk. Selain mengejar promo akhir tahun, sekaligus ya memang butuh juga ni gigi dibersihin. Btw saya coba scalling di OMDC Mampang. Tanpa promo, sebetulnya biaya perawatan di klinik ini terbilang pricey ya. Tapi memang menurut saya pribadi cukup bagus pelayanannya, mulai dari area perawatan gigi yang thematic ala-ala Japanese, pegawai sampai dokter yang ramah. Ya, meskipun saya pribadi belum ada comparing dengan dokter gigi lain (because it was my first time haha).

Bike to fill my happiness!



Menutup akhir tahun bareng Rodalink PI. Hampir 1,5 tahun terakhir menghidupkan habit untuk gowes dan mencari teman baru dan itu sangat-sangat menyenangkan💗. *Thanks to Coach Deny yang udah mendampingi until finish😂

And this is the end of 2024. Thank to myself that survive 365/365 in this year.
Bersyukur karena banyak pengalaman, pelajaran, tawa, tangis yang sudah saya lalui selama satu tahun ini. Terima kasih kepada orang-orang yang telah hadir dan mungkin telah pergi dari hidup saya untuk memberikan pelajaran berharga.
Bismillah for the new chapter of my life in 2025💫

- jurnaldhena





Share on:
  • ← Previous post
  • Next Post →
  • Menulis dan berbagi, agar tak tergerus akal imitasi
  • Pembelajar seumur hidup
120x120

ldhena

Author

TULISAN LDHENA

Menulis bersama LDHENA

Terfavorit

  • Jurnaldhena's Cooking 101 - Edisi Ramadan
    Let me spill the recipe😋 Tumis daging buncis Bubur sumsum Tahu cabe garam
  • AKHIRNYA LULUS!!!!
    Alhamdulillah..  Officially Linda Dhena Puspita S.Ikom Terima kasih Allah SWT.. Terima kasih Mama, Bapak, Keluarga Opak.. Terima kasih teman...
  • Review Film : 1 Kakak 7 Ponakan
    Beberapa kali menonton karya Yandy Laurens, rasanya gak pernah mengecewakan. Mulai dari web series Sore, film Keluarga Cemara sampai Jatuh C...
  • Tirah, Menjaga Kewarasan dalam Jiwa
    Baru saja menyelesaikan satu film original Netflix berjudul A Normal Woman. Film bergenre drama dan  psychological thriller  ini dibintangi ...
  • Law of Assumption, Membawa Hidup dalam Manifestasi
    Semesta seakan kompak membawa saya pada suatu konsep keilmuan bernama "Law of Assumption". Beberapa waktu lalu, rekan kerja saya, ...

NGL - ANONIM

TANYA!

Kumpulan Goresan

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • Jeda Ramadhan
  • ►  2025 (7)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2024 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2023 (7)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Oktober (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2019 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2017 (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2012 (4)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)

BLOGGER PEREMPUAN NETWORK

INDONESIAN BLOGGER COMMUNITY

Statistik

Profile Linkedin Facebook Twitter Tiktok Instagram

ldhena

༻✿༺

Created By SoraTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates Vector by Freepik