ldhena

༻✿༺

  • 🏡
  • Bercerita
    • Curhat
    • Esai
  • Beropini
  • Berkreasi
    • Masak-Masak
    • Karya

CATEGORY >

Sesuai judulnya, kali ini ingin bercerita tentang salah satu fase kehidupan pasca kuliah (re: KERJA). Kalau kata orang-orang, bekerja adalah masanya untuk mengimplementasikan ilmu yang sudah didapatkan semasa sekolah dan kuliah. Apakah benar begitu fellas?

Alhamdulillah saat ini gue bekerja di sebuah lembaga konsultan dan start-up digital marketing. Kalau bingung kenapa bisa dua perusahaan, akan gue jelaskan lebih lanjut ya nanti. Dari kedua pekerjaan tersebut, rasanya memang masih cukup relate sama background pendidikan gue terdahulu yaitu Komunikasi. Meski semua bidang pekerjaan juga sebetulnya butuh komunikasi, iya gak sih😄? Tapi kalau mengikuti jurusan kuliah gue yaitu Manajemen Komunikasi, bidang pekerjaannya itu memang lebih ke program kerja yang biasanya ada di LSM, lembaga pemerintah, yang ranahnya ke social marketing, advokasi etc. Tapi sepertinya buat gue sendiri memang belum ada jalan kesana.

Nah, pertama kali merasakan apa itu "bekerja" sekitar tahun 2015 dengan menjadi SPG properti syariah. Ada kisah yang cukup mengesankan pada saat itu, selain karena pengalaman pertama bekerja, tentunya dapat gaji pertama pula.

Jadi awalnya gue dan Mba Iya (kakak gue yang cewek), ditawarin sama Pakde gue yang merupakan developer perumahan buat bantu memasarkan di sebuah pameran properti, jadi SPG gitu. Gue sama Mba Iya gak nolak karena fee-nya lumayan gede dan kerjaannya juga lumayan gampang, sebar brosur sama casciscus aja. Event-nya waktu itu adalah Indonesia Property Expo (IPEX), berlokasi di JCC, selama 4 hari acara. FYI, event planner atau EO dari pameran IPEX tersebut adalah perusahaan EO tempat Almarhum Bapak gue bekerja.

Inget banget saat itu, gue sama Mba Iya pulang pergi ke acara tersebut bareng Bapak. Bapak setiap ketemu sama temen-temen kantornya pasti langsung ngenalin kita berdua "INI NIH ANAK-ANAK GUE" dengan bangganya gitu. Dulu ngebayangin, gue sama Mba Iya yang lagi sebar-sebar brosur gini aja Bapak gue bangga ngenalin ke teman-temannya, apalagi nanti kalau udah sukses beneran hahaa mewek😂.

Bapak bisa dibilang udah punya posisi yang lumayan penting di kantornya yang bergerak di bidang EO tersebut. Sangat mudah bagi Bapak sebetulnya buat "masukin" anak-anaknya buat bekerja di kantornya. Tapi apakah Bapak melakukan itu? Well, no😆. Bapak memang bukan tipe yang mau memanfaatkan jabatannya dan menjadi "orang dalam" bagi karir anak-anaknya.

Bapak memang sudah membiasakan anak-anaknya untuk berjuang sendiri jika ingin meraih sesuatu. Memaksimalkan potensi dan skill yang dimiliki agar bisa bersaing. Dan yang paling penting, (usahain deh) jangan pakai yang namanya "orang dalam". Kalau lo bisa mendapatkan sesuatu dengan usaha sendiri kenapa harus maksa dengan memanfaatkan privilege orang dalam. Referensi, rekomendasi orang dalam, anything you name it, gak salah juga sih. Tapi pesan Bapak itu sejujurnya sangat bermanfaat buat kehidupan gue pribadi sampai saat ini. Effort gue dalam meraih sesuatu jadi semakin besar, gue berusaha untuk selalu mandiri, tidak mengandalkan orang lain dan tentunya jadi makin tawakal sama yang di atas.

2015, jadi SPG perumahan syariah MashaAllah ukhti😆
Terlebih gue itu jaranggg banget update status di social media, banyak diantara teman-teman yang sering kepo kehidupan gue. "Linda kerja dimana sih sekarang?". Karena kebetulan ada momen-momen dimana ketika gue lagi contact-an sama teman sekolah/kuliah, mereka lagi sibuk-sibuknya kerja, guenya lagi free. Mereka lagi free, gue nya yang malah lagi kerja.

Kalau udah liat status job di LinkedIn gue, pasti pada bingung "Gimana bisa dan rasanya bekerja di lebih dari satu perusahaan?". Sebenernya kalau mau di eksplor, banyak juga sih yang sistem kerjanya kaya gue gini. Punya satu settle job dan side job di luar itu, apapun bidangnya.

My LinkedIn Profile

Working in Different Ways

Di pertengahan 2017 sewaktu lagi ngurus proses skripsi, gue ambil job freelance di sebuah start-up digital marketing bernama eDaun Inspirasi Dijital. Lumayan banget untuk nambah-nambah penghasilan di saat krisis menuju fresh graduate. Gue apply job di eDaun dan job freelance lainnya melalui situs Sribulancer. Worth to try banget sih Sribulancer buat orang-orang yang mau cari kerjaan paruh waktu. Next time gue bakal share ya tentang pengalaman gue pakai Sribulancer ini.

Produk dari startup eDaun yang sudah banyak dikenal masyarakat salah satunya website Hemat.id dan saat ini sudah berkembang ke Aplikasi berbasis Android bernama Kliptalog. Kalau kalian masih cukup asing dengan dua produk tersebut, berarti kalian belum termasuk kategori ibu-ibu rumah tangga yang selalu stand by cari promo supermarket😁. Tugas gue di sana juga lumayan simpel pada waktu itu yaitu sebagai EDP (data entry produk). Sistem kerjanya pun juga remote (work from home) dan sangat fleksibel waktunya. Teman-teman gue sesama EDP pun tersebar dimana-mana ada yang tinggal di Bandung, Tangerang, Semarang hingga Yogyakarta.

Kliptalog Apps - Available on Play Store



Pasca gue lulus kuliah, mulai deh apply kerja yang mulai serius sana-sini. Serius di sini dalam arti full time ya. Karena definisi kerja yang sesungguhnya menurut kebanyakan orang, bahkan menurut orang tua gue sendiri adalah dengan berangkat ke kantor every Mon-Fri from 9 to 5, isn't it?😂. Namun karena belum rezekinya, gue belum bisa dapat pekerjaan full time yang cocok. Ada yang jobdesknya enak tapi kantornya jauh, ada yang kantornya dekat tapi gue-nya gak qualified wkwk. Sampai akhirnya gue dapat panggilan dari ESQ Group, karena gue apply di salah satu anak perusahaannya yang bernama ACT Consulting sebagai Class Manager dengan sistem kerja freelance. Alhamdulillah gue diterima di sana setelah proses screening CV dan ikut pelatihan workshop-nya.

Bekerja di rumah sembari ngemong anak bayi, mantap (btw ini keponakan gue si Kanigara😆)
Project Selling The Sail - Event Training Values Internalization Mitsuba Indonesia
Eventnya apa lupa, tapi ini sewaktu peserta dari Adhi Karya mengikuti Gallup Test.

Leaders Alignment Session BRI Finance

Kenapa Gak Kerja Full Time?

Linda kan udah lama ya jadi CM, coba apply jadi tim consultant junior aja. Nanti bisa sambil jalan S2. - Coach Dudi, Trainer ESQ Leadership Center
Gimana kalau untuk fulltime di sini (eDaun)? Kira-kira bisa ikut ke Bandung juga? - Bu Joyce C., Co-Founcer eDaun Inspirasi Dijital
Beliau-beliau, dua orang yang posisinya cukup penting di tempat gue bekerja saat ini, juga pernah menawarkan hal tersebut. Mama pun juga sempat bertanya pertanyaan yang sama "Gak mau coba full time?"

Di balik rasa lelah bekerja dengan sistem yang seperti ini, sejujurnya gue sangat-sangat senang dan bersyukur bisa berada di posisi ini untuk saat ini. Kedua perusahaan ini bisa menerima gue dengan baik. Banyak tugas dan amanah yang diberikan oleh mereka, artinya mereka percaya dengan kemampuan yang gue miliki. Meski di satu perusahaan gue hanya bisa berinteraksi dengan mereka tanpa tatap muka, dan perusahaan yang satu lagi status pekerjaan gue hanya pekerja lepas (based event). Gue juga bisa lebih banyak kesempatan untuk work from home, jadi bisa sambil jaga Mama, yang sekarang udah jadi orang tua tunggal gue selepas meninggalnya Bapak. Jadi tetap ada hikmah kehidupan yang bisa diambil bukan?😄.

Kalaupun gue harus memilih satu, maka akan ada hal lain yang harus gue korbankan. Dan gue belum bisa mengorbankan salah satunya (WKWKW). Bukan egois ya, lebih kepada beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah, kedua tempat ini sama-sama memberikan kesempatan untuk gue untuk terus belajar dan berkembang, dengan sistem kerja yang bisa dibilang terbatas. Yang terkadang kondisinya juga memaksa gue untuk keluar dari zona nyaman. Sebagaimana sebuah kutipan, life begins at the end of your comfort zone.
Share on:
Hai Bapak, Bapak lagi apa?
Hari ini, merupakan hari lahir Bapak.
Hari ini, kalau Bapak masih ada, Bapak tepat berusia 58 tahun.
Hari ini, kalau Bapak masih ada, mungkin kita lagi ngetawain jokes Bapak yang seringnya gak pernah lucu, tapi tetep bikin ketawa.
Hari ini, kalau Bapak masih ada, mungkin sekarang kita sedang bingung mau beli makan apa (kalau hari spesial biasanya mama gak masak).
Hari ini, kalau Bapak masih ada...
Tentu masih ada banyak hal lagi yang mungkin akan kita lakukan bersama-sama.


Tak terasa, sudah hampir 4 bulan sejak Bapak pergi. 
Bapak meninggalkan kami pada 16 Juni 2018 lalu, 2 Syawal 1439 H, hari kedua Idul Fitri di tahun ini.
Duh, masih susah rasanya buat percaya. 

Tapi begitulah kalau Tuhan sudah berkehendak, manusia tidak pernah tahu.
Hari ini masih bisa bersuka ria, tau-tau besok berduka cita..
Hari ini masih berpijak di tempat yang sama, tau-tau besok sudah lain dunia.


✿✿

Sudah rencana dari jauh-jauh hari kalau tahun ini kami bakal mudik ke Purworejo (asikkkk).  Minus Mas Adhit dan istrinya yang mudik ke Indramayu. Tahun ini entah kenapa Bapak juga sangat bersemangat buat mudik. Bapak pun memutuskan untuk menyetir sendiri tanpa bawa supir (sayangnya aku sama Mba Iya gak ada yang bisa nyetir buat gantian, ah memang payah). Bapak yakin banget dengan kondisi tubuhnya yang fit dan super happy buat yok jalan. 

Ternyata, semangatnya Bapak dalam perjalanan mudik kali ini sekaligus menjadi semangat baginya untuk menempuh perjalanan jauh ke kehidupan yang baru.


Seusai solat Ied kemarin, seperti biasa keliling-keliling ke tetangga sekitar selepas balik dari Masjid, itupun gak berlama-lama kaya lebaran sebelum-sebelumnya. Karena Bapak udah planning banget habis solat Ied udah harus siap-siap dan jam 9 pagi udah harus jalan. Rencana mudik ke Jawa di hari pertama Idul Fitri, harapannya gak bakal kena macet. Hamdalah, biasanya bisa lebih dari 12 jam, perjalanan kemarin sepertinya kurang dari 12 jam. 

Namanya lebaran hari pertama, sekitaran rumah ramai betul. Ingat banget, sebelum pergi, sambil kita pamit ke tetangga sekitar rumah (sambil ber-minal aidin wal faidzin) Bapak juga bilang, "titip rumah ya.. mau perjalanan jauh". Benar saja, ini menjadi awal dari perjalanan jauh yang nyatanya harus ditempuh Bapak seorang diri.

✿✿


Perjalanan kemarin begitu terasa mulus tanpa ada macet-macetan. Oiya, tujuan pertama mudik kami adalah ke rumah Om Pras, karena kita bakal stay di sana selama di Purworejo. Sampai rumah Om Pras sekitar jam setengah 9 malam, Alhamdulillah sampai dengan selamat tanpa kurang satu apapun.

Malam itu, aku tidur bertiga bareng Mama dan Mba Iya di ruang TV. Bapak bobok sendiri di sebelah ruang TV. Mungkin sekitar jam 3 dini hari Bapak bangun buat tahajudan. Dan lucunya, Bapak sholat gak di mushola rumah Om Pras, malah nyempil di sela-sela meja TV dan tempat kami bertiga tidur. Meski terkesan lucu, ternyata itu menjadi jalan indah dari Allah agar kami bertiga berkesempatan untuk melihat Bapak terakhir kalinya. Seusai sholat tahajud itulah menjadi masa-masa terakhir hidup Bapak di dunia. 

Kondisi Bapak saat itu sedang dzikir, sampai tiba-tiba Bapak merasa sesak dan ngebangunin Mama. Aku dan Mba Iya auto bangun karena memang Mama sempat teriak juga. Wah.. masih terasa kondisi paniknya untuk menyadarkan Bapak waktu itu. Mama terus berusaha untuk melakukan CPR ala kadarnya, sambil Om ku mencari ambulans atau orang yang bisa bawa mobil Bapak ke rumah sakit (saat itu aku merasa menyesal dan gak berguna banget gak bisa nyetir mobil). 

Mungkin tepat di pukul setengah 4 pagi, kami mendapati Bapak seperti menghela napas yang cukup berat dan panjang, sampai akhirnya benar-benar terpulas. Aku pribadi masih merasa cukup tenang, karena berpikir Bapak itu hanya kecapean dan pingsan aja. Sampai akhirnya aku harus berkali-kali disadarkan oleh Mama, Bapak udah gak ada.
Jangan ditanya deh gimana rasanya. Ancurrrrr...
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, aku masih sangat optimis kalau Bapak masih ada (tidak dengan mama dan Mba Iya yang udah nangis-nangis pesimis). Badan Bapak aku pastikan masih hangat, gak ada tanda-tanda biru di sekujur tubuhnya. Bener-bener kaya orang bobok aja.

Hingga akhirnya rasa optimisku harus benar-benar berakhir. Saat itu Bu Dokter gak bilang apa-apa, cuma yang aku lihat ia menepuk pundak Mama sambil bilang "yang sabar ya bu". Meski ia juga gak bilang "kami sudah berusaha maksimal" seperti di sinetron-sinetron, tapi aku sudah cukup paham dengan maksudnya. Diagnosa Dokter waktu itu, Bapakku mengalami Cardiac Arrest, gejala henti jantung yang cukup berbeda dengan serangan jantung. Apapun istilahnya, semua memang begitu mendadak dan susah dipercaya. Tapi lagi-lagi, kalau Tuhan sudah berkehendak, manusia bisa apa?

✿✿

Bapak, terima kasih sudah menjadi pemimpin yang baik bagi keluarga kami..
Bapak bukan manusia sempurna, tapi satu hal yang kami tahu, Bapak selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang baik.
Dan, kehadiran Bapaklah yang sungguh menyempurnakan hidup kami.
Bahagia di sisi Allah ya Pak..
Terang dan damai di alam kuburmu..
Semoga kelak, Allah pertemukan kita kembali di surga-Nya🙇


Jakarta, 18 Okt 18
✿✿
Share on:


Hello!!!!!!

     Kembali lagi di post Kembali Lagi (Part II).. Mudahmudahan serius untuk kali ini benar-benar kembali, gak PHP he he. Setelah sebelumnya post terakhir blog ini di tahun 2015, dengan judul yang sama dan tedeng alih-alih gue bilang bakal nulis, ternyata kaga nulis apa-apa lagi sampai 2018 wkwkwk 😃 Tapi postingan gue dari zaman baheula yang ada disini gak gue hapus kok beberapa, buat kenang-kenangan haha. Cuma untuk beberapa postingan ada yang gue update sedikit dan di hapus foto-nya dikarenakan masalah aurat wkwk.


     Tentu banyaaaaaaaaaaaak bangetttttttttt (lebay) yang sebenarnya pengen gue ceritakan disini dengan apa yang sudah gue lalui dalam hidup selama 2015-2016-2017-sekarang. Tapi gue bingung dong saking banyaknya yang mau diceritain mulai darimana wkwkw. Ringkasnya, mungkin yang ngebet banget pengen gue ceritain yaa flashback zaman-zaman kuliah kali ya, terus soal pekerjaan, pengalaman hidup yang pasti. Sesungguhnya sejak zaman kuliah sampai sekarang hidup gue itu laksana roller coaster, naik-turun, up and down, dan sering bikin bertanya-tanya sama yang di atas, 
"Kenapa jalan hidup gue kaya gini ya? Bisa ketemu A, ketemu B. Dapat kesempatan buat ngelakuin C, ngelakuin D. Kenapa harus kehilangan X dan kehilangan Y?"
     Ya begitulah pokoknya jari udah gatel mau cerita. Dari yang HAHAHA sampai ya HUAHUA ada. Terus ngebahas apalagi yaa... soal cinta? Aduhh ga terlalu tertarik buat dibahas sebenernya. FIX sampai sekarang gue masih TUNA-ASMARA soalnya bahahaaa.. But don't worry tetap akan ada bahasannya nanti, gue selip-selipin aja di setiap postingan, gak mau bikin postingan khusus soal ginian males wkwk #okesip.

     Mungkin cukup segitu dulu prologue un-faedah di awal 2018 ini. Semoga blog ini tetap ada faedahnya buat gue sendiri dan orang-orang yang mungkin terjerumus melihat postingan-postingan disini😎. Sudah ya gue pamit, see you at the another post😋
Wassalamualaikum
Share on:
Alhamdulillah.. 
Officially Linda Dhena Puspita S.Ikom
Terima kasih Allah SWT..
Terima kasih Mama, Bapak, Keluarga Opak..
Terima kasih teman" seperjuangan di kampus tercinta, sahabat" dari zaman jahiliyah..
Terima kasih IISIP dan segala isinya..
Terima kasih Lentera Sintas Indonesia..
Terima kasih ✿✿


Share on:



Pernah di cat calling oleh orang yang tidak dikenal, pernah dipegang salah satu anggota tubuh oleh orang yang juga tidak dikenal hingga bertemu dengan orang gangguan eksibisionis. Semua yang pernah saya alami ini, hanya sedikit dari beragam bentuk pelecehan seksual lainnya. Beruntung, saya tidak mengalami trauma yang begitu berarti. Karena di luar sana, ada banyak penyintas kekerasan / pelecehan seksual dengan kasus yang jauh lebih besar, menyebabkan trauma mendalam hingga sulit mendapat pertolongan. Ada banyak lagi tentunya bentuk-bentuk pelecahan seksual yang sepertinya sampai saat ini juga belum ada payung hukum yang melindungi. 

Berangkat dari pengalaman yang saya alami hingga terlibat untuk magang di Yayasan Pulih, sebuah lembaga yang fokus pada penguatan psikososial untuk korban kekerasan, membuat saya semakin tertarik dengan isu kekerasan seksual. Hingga akhirnya membawa saya bertemu dengan Yayasan Lentera Sintas Indonesia. Kehadiran Lentera Sintas Indonesia memang bukan sebagai counselor, therapist atau pendamping, namun menjadi support system bagi para penyintas kekerasan seksual. Karena seperti yang kita tahu, mayoritas korban kekerasan seksual seringkali mendapatkan stigma, hingga tidak berani untuk speak up.

#MulaiBicara ini bukan diperuntukan bagi penyintas saja, namun untuk semua orang, semua usia, semua kalangan. Karena sesungguhnya yang menjadi korban kekerasan seksual bukan hanya kaum perempuan saja, laki-laki pun turut berisiko.

Penanganan hukum bagi kasus kekerasan seksual membutuhkan perangkat baru yang mementingkan pemulihan korban agar jumlah korban yang tidak mendapatkan keadilan dapat berkurang. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual penting karena akan memberikan payung hukum untuk melindungi korban dimana:
1. korban tidak disalahkan
2. korban tidak bayar visum
3. akses pemulihan diutamakan

Semakin lama pengesahan RUU ini ditunda, semakin banyak lagi korban yang tidak tertolong. Yuk nyatakan dukunganmu terhadap pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dengan turtu post di semua media sosialmu! Hanya dengan gerak bersama dapat kita capai pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual!

#GerakBersama #MulaiBicara #HapusKekerasanSeksual
Share on:
  • ← Previous post
  • Next Post →
  • Menulis dan berbagi, agar tak tergerus akal imitasi
  • Pembelajar seumur hidup
120x120

ldhena

Author

TULISAN LDHENA

Menulis bersama LDHENA

Terfavorit

  • Jurnaldhena's Cooking 101 - Edisi Ramadan
    Let me spill the recipe😋 Tumis daging buncis Bubur sumsum Tahu cabe garam
  • Tirah, Menjaga Kewarasan dalam Jiwa
    Baru saja menyelesaikan satu film original Netflix berjudul A Normal Woman. Film bergenre drama dan  psychological thriller  ini dibintangi ...
  • Review Film : 1 Kakak 7 Ponakan
    Beberapa kali menonton karya Yandy Laurens, rasanya gak pernah mengecewakan. Mulai dari web series Sore, film Keluarga Cemara sampai Jatuh C...
  • Law of Assumption, Membawa Hidup dalam Manifestasi
    Semesta seakan kompak membawa saya pada suatu konsep keilmuan bernama "Law of Assumption". Beberapa waktu lalu, rekan kerja saya, ...
  • My Sweet and Lovely 17th
    Waa ternyata udah kelewat ± 51 hari dari hari ulang tahun gue 9 November 2012 haha. Banyak loh yang pengen gue ceritain. Di tahun ini us...

NGL - ANONIM

TANYA!

Kumpulan Goresan

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • Jeda Ramadhan
  • ►  2025 (7)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2024 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2023 (7)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Oktober (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2019 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2017 (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2012 (4)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)

BLOGGER PEREMPUAN NETWORK

INDONESIAN BLOGGER COMMUNITY

Statistik

Profile Linkedin Facebook Twitter Tiktok Instagram

ldhena

༻✿༺

Created By SoraTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates Vector by Freepik