ldhena

༻✿༺

  • 🏡
  • Bercerita
    • Curhat
    • Esai
  • Beropini
  • Berkreasi
    • Masak-Masak
    • Karya

CATEGORY >

366/366, akhir dari tahun 2020. Sebelum benar-benar berakhir, gue menyempatkan diri untuk menulis ini (harus - karena sudah lama di drafting juga sih). Setidaknya, apa yang terangkum di sini bisa mengingatkan kembali betapa gue sudah berjalan sampai sejauh ini. Mengingatkan bahwa Tuhan Semesta Alam selalu membersamai hidup gue, di segala situasi apapun, terlebih di tahun ini.

Setuju ya kalau 2020 rasanya menjadi tahun yang rasanya berat dan lama bangett. Karhutla, banjir, Covid-19, RUU PKS, Cipta Kerja, PHK, #dirumahaja, (ditambah masalah hidup) semakin membuat 2020 menjadi makin sempurna (ruwetnya). Karena sejatinya manusia hanya melihat apa yang bisa dilihat dan ingin dilihat, bukannya apa yang harusnya dilihat (ucap Mas Bos dari Webtoon Diner with Philosophy). 

Adaptasi

Menghadapi apapun secara berlebihan memang gak bagus, sama halnya dengan menghadapi pandemi Covid-19. Beradaptasi dengan kewaspadaan, bukan dengan rasa takut atau sampai parno berlebih, bukan pula menganggap remeh. Itu mindset yang gue terapin di diri gue, begitu juga dengan orang-orang di sekitar gue. 

*Jaga jarak - cuci tangan - pakai masker* sudah menjadi standar perilaku wajib selama setahun belakangan. Padahal, jauh sebelum pandemi mewabah, yang namanya menjaga kebersihan pola hidup yang sehat, apalagi dalam hal kebersihan memang sudah dianjurkan dalam agama. 

Gue punya teman yang kerja sebagai nakes dan jurnalis yang kerja di media. Cerita dari mereka juga membuka mata gue untuk yakin bahwa Covid ini ADA (bukan konspirasi). Tapi kita juga harus kritis bahwa apa yang sering kita dapat dari luar sana gak selamanya juga benar. Banyak hal yang dimainkan oleh oknum-oknum yang gak bertanggungjawab, yang pada akhirnya malah ngebuat ricuh, mental down bahkan pesimis.

Terus lo percaya gak Lin sama Covid-19?

Percaya, i'm a covid survivor😆 Pada akhirnya gue ngerasain terjangkit Covid di tahun Covid. Lalu bagaimana rasanya? Gue pribadi ketika didiagnosa positif memang lagi gak sakit, jadi gak ngerasa apa-apa. Istilahnya Covid Asimtomatik atau OTG (orang tanpa gandengan *eh, orang tanpa gejala maksudnya). Walaupun batuk/flu selama sebulan terakhir ya kayak batpil biasa aja.

Awalnya gue merasa aman-aman aja, pasti gak bakalan terpapar Covid. Kerja WFH terus, lebih sering belanja online, sesekali pergi pas kondangan aja (itupun rata-rata undangan temen yang gue datengin terbatas banget). Prokes yang gue jalanin juga cukup ketat, menurut gue pribadi. Yah namanya virus, datang begitu aja tanpa permisi. 

Gue ikut SWAB Test pun tadinya memang untuk kebutuhan kerjaan ACT di lapangan. Karena gue ngerasa sehat-sehat aja ya gue gas aja, aman pastilah, eh ternyata hasilnya positif #cry. Mau minta maaf berkali-kali ke tim ACT karena biaya Swab Test semahal itu ternyata (hampir 900K). Walaupun tetap dibiayain kantor dan gue cuma disuruh istirahat, tapi tetep aja gak enak 😂. Kemungkinan juga pas gue di-test itu, kondisi gue lagi stress bahkan imun gue sedang turun jadi dampaknya ke tubuh gue yang jadi gampang terjangkit.

Alhamdulillah karena hasil CT Value Swab Test gue dalam batas ambang aman (menurut tenaga medis yang menangani) alhasil gue cuma disuruh isolasi mandiri aja selama 2 minggu. Kalau selama dan setelah 2 minggu itu gue mengalami gejala-gejala lainnya barulah untuk ditindaklanjuti secara medis. 

Yang menjadi drama, begitu tahu gue kena Covid, keluarga gue panik sepanik-paniknya. Karena Covid itu udah dianggap kayak zombie yang mematikan bahkan aib bagi yang terpapar. Gue tekanin ke mama dan kakak-kakak gue, "Everything is gonna be okay!" Gue berusaha untuk gak panik-panik banget, jangan stress, kuatin imun dan iman aja. Walaupun sebenarnya gak sesantuy itu juga sih, karena gue pun takut anggota keluarga gue yang lain kena juga, mama, mba iya, mas adit, mba desi bahkan ponakan gue yang masih kecil si Kanigara. Even pada saat itu mereka gak menunjukkan symptom Covid.

Drama semakin tersulut sampai ketika gue dapet panggilan dari Puskesmas Pejaten Timur. Yes! Gue di-tracing dari hasil Swab Test positif gue itu. Katanya datanya udah sampe Dinas Kesehatan DKI dan gue pun ditanya-tanya terkait aktivitas terakhir gue ngapain aja, interaksi terakhir gue sama siapa. Bener-bener ditelusurin sampai ke akar-akar khawatir positif Covid-nya gue membahayakan orang-orang di sekitar gue.

Gue pun masih gak tahu apa penyebab gue bisa terpapar. Bisa jadi pas gue lagi belanja ke minimarket, lagi kondangan atau pas lagi interaksi sama tetangga maupun orang-orang sekitar gue. Tapi yang paling memungkinkan sih, gue berinteraksi sama orang-orang yang sebetulnya orang itu terpapar Covid tapi dia sendiri gak tahu kalau dia positif Covid.

Singkat cerita, keluarga gue akhirnya diminta untuk di Swab Test. Dengan seluruh tenaga gue memaksa mereka biar mau di Swab, mereka gak mau ya karena takut. Syukur kalau hasilnya negatif, kalau positif dan CT Value-nya rendah dan berbahaya bisa jadi nantinya harus diisolasi di Wisma Atlet. Karena setahu gue semakin tinggi CT Value-nya semakin aman dan gak berisiko. Sebaliknya kalau CT Value-nya rendah bakal berisiko tinggi menularkan Covid. Gue gak terlalu paham, tapi dari hasil Swab gue yang tertulis CT-Value gue 37,3 (batas normal value Egene > 39, RdrP >38). 

Alhamdulillah.. Dari perdramaan swab sweb swob, hasil swab keluarga gue semuanya negatif. Bahkan Kanigara yang sering main sama gue pun juga negatif. Bersyukur banget.. karena walaupun gue positif Covid setidaknya keluarga terdekat gue gak ada yang ikut terpapar.

Oiya, pas tahu gue Covid, gue juga langsung hubungin beberapa teman yang sempat ketemu dan interaksi sama gue sebelumnya. Alhamdulillah semuanya aman dan sehat-sehat. Karena rata-rata mereka juga udah WFO jadi seringkali diminta kantornya buat rutin ngelakuin swab or rapid test. 

Sebuah pelajaran berharga dari yang di-atas, agar gue senantiasa bersyukur. Meskipun gue terpapar Covid, Allah masih beri gue kesempatan untuk bisa bernapas dengan mudahnya, makan dengan nikmat, beraktivitas normal, bahkan di tengah isolasi mandiri pun gue masih bisa kerja mencari cuan. Saat di luar sana, banyak orang yang terpapar Covid ataupun yang tidak terpapar Covid, tapi sama-sama berjuang untuk tetap bisa bertahan hidup.

..Cause every cloud has a silver lining..

Quarter Life of Crisis

Seperempat abad, tahun dimulainya masa-masa "krisis", khususnya krisis dalam pencarian jati diri. 25 tahun, usia yang idealnya untuk memiliki jenjang karier yang bagus, pasangan yang setia, rasa-rasanya belum gue rasakan ada di diri gue saat ini. Jujur, gue masih belum tahu ke depan mau apa, menjadi apa, mau ke mana. Gue gak tahu apakah gue bisa memenuhi ekspektasi orang-orang yang gue sayangi, terlebih keluarga gue. 
Arah kehidupan gue belum sampai ujungnya, adapun jika sampai ujung akhir pun bentuknya adalah kematian. Namun, selagi masih hidup dan gue menjadi orang yang biasa-biasa aja, itu gak papa kan ya?

Menempuh Hidup Baru 

Meski tahun ini terasa begitu berat dan berjalan lambat, bersyukur masih banyak momen yang bikin hati senang dan membuat senyum ceria tersemat. Menutup akhir tahun dan postingan ini, izinkan gue berbagi kebahagiaan itu.


Lini's Engagement Day, soon to be Bride 2021💓

Wulan's Wedding Day💓
Ninis's Wedding Day💓 - Gak sempet foto bareng pas kondangan :(
Nada's Wedding Day💓

Anggie's Wedding Day💓
Mei dan Mayang Wedding's Day - Ratu-ratunya NutriTeen💓
Dekaw and Kak Adi's Wedding Day, hasil percomblangan gue yang berhasil sampai pelaminan wkwk💓
Rora's Wedding Day, sekaligus tugas jadi PIC Akad💓

Sekali lagi, atas suka duka yang tercipta, terima kasih 2020.
Share on:

Menjadi penutup akhir tahun 2020 (setelah Rora, Dekaw, Nada, Wulan, Ninis, Mei, Mayang), Anggie bride to be soon!
Meski tahun ini, semua kebencian jatuh kepada virus Corona, tapi menurut gue, tahun ini justru menjadi berkah, khususnya bagi para dua insan yang akan menikah. 

Jadi,
Kamu kapan, Lin? 
Yaa, doakan saja🙆
Share on:
Assalamualaikum..
Rumah Qorira hadir kembali guys! Dengan berbagai macam pilihan produk busana muslim yang lebih fresh dan harga tetap bersahabat. 

Silakan review beberapa produknya di sini atau Instagram @rumahqorira. Bagi yang ingin order bisa langsung kontak via WA dengan klik tombol Tanya Tanya Rumah Qorira di side bar halaman ini ya.
















Silakan bagi teman-teman yang tertarik bisa langsung mengunjungi Rumah Qorira
Happy shopping all!
Wassalamualaikum..
Share on:

Sudah hari ke berapa sekarang di 2020? Sudah berapa hari kita untuk stay #dirumahaja?
Waktu rasanya berjalan begitu lambat selama pandemik (kecuali Ramadhan, tau-tau udah selesai aja). Ya.. meskipun kehadirannya tak pernah diharapkan, kenyataannya Covid 19 menjadi sesuatu yang suka tak suka, mau tak mau, harus dihadapi dan diwaspadai (bukan ditakuti atau cuma dibangsat-bangsati).
Kalau Covid berwujud manusia, rasanya ingin bilang, Vid, gelud yok!
Berpuasa di tengah wabah Covid-19 - dimana ruang gerak serba terbatas - benar-benar menghilangkan Ramadhan vibes. Puasa rasanya sepi, gak bisa sholat di masjid (gue pribadi jarang ke masjid juga sih sebenernya), gak bisa bukber bareng teman-teman, mau jajan ta'jil pun juga dibatasi sama mama biar gak sering-sering keluar rumah. Pas Lebaran apalagi! Gak bisa mudik ke Purworejo buat ziarah Bapak, terbatas untuk silaturahmi ke rumah kerabat bahkan untuk keliling ke tetangga sekitar rumah.

Astagfirullah.. maaf, maaf.  Malah jadi banyak ngeluhnya.
Terlalu sibuk melihat hal-hal yang gak sesuai dengan ekspektasi, sampai-sampai lupa mengapresiasi.

Bersyukur masih diberi kesehatan sama yang di atas sampai saat ini. Ada banyak orang yang bahkan untuk bernapas aja sulit.
Ada pekerjaan yang terpaksa ditangguhkan sampai waktu yang gak ditentukan, namun harus tetap bersyukur karena masih punya pekerjaan tetap yang masih bertahan. 
Bersyukur masih bisa kerja dari rumah, dibandingkan dengan orang-orang yang harus bekerja di luar rumah.
Bersyukur masih bisa waras dan bahagia untuk tetap #dirumahaja, ada orang-orang yang justru mentalnya gak sehat kalau terus-terusan ada di rumah. 

Tetap semangat..
Kita lewatin ini sama-sama..
Jaga kesehatan fisiknya..
Jaga kesehatan mentalnya..
Jaga jarak kalau terpaksa beraktivitas di luar rumah..
Tetap saling berempati, saling memahami, saling menguatkan..

Saling jaga
30 Mei 2020

(Penutup) Ucapan Selamat Idul Fitri dari Keluarga Opak

Share on:
Sesuai judulnya, kali ini ingin bercerita tentang salah satu fase kehidupan pasca kuliah (re: KERJA). Kalau kata orang-orang, bekerja adalah masanya untuk mengimplementasikan ilmu yang sudah didapatkan semasa sekolah dan kuliah. Apakah benar begitu fellas?

Alhamdulillah saat ini gue bekerja di sebuah lembaga konsultan dan start-up digital marketing. Kalau bingung kenapa bisa dua perusahaan, akan gue jelaskan lebih lanjut ya nanti. Dari kedua pekerjaan tersebut, rasanya memang masih cukup relate sama background pendidikan gue terdahulu yaitu Komunikasi. Meski semua bidang pekerjaan juga sebetulnya butuh komunikasi, iya gak sih😄? Tapi kalau mengikuti jurusan kuliah gue yaitu Manajemen Komunikasi, bidang pekerjaannya itu memang lebih ke program kerja yang biasanya ada di LSM, lembaga pemerintah, yang ranahnya ke social marketing, advokasi etc. Tapi sepertinya buat gue sendiri memang belum ada jalan kesana.

Nah, pertama kali merasakan apa itu "bekerja" sekitar tahun 2015 dengan menjadi SPG properti syariah. Ada kisah yang cukup mengesankan pada saat itu, selain karena pengalaman pertama bekerja, tentunya dapat gaji pertama pula.

Jadi awalnya gue dan Mba Iya (kakak gue yang cewek), ditawarin sama Pakde gue yang merupakan developer perumahan buat bantu memasarkan di sebuah pameran properti, jadi SPG gitu. Gue sama Mba Iya gak nolak karena fee-nya lumayan gede dan kerjaannya juga lumayan gampang, sebar brosur sama casciscus aja. Event-nya waktu itu adalah Indonesia Property Expo (IPEX), berlokasi di JCC, selama 4 hari acara. FYI, event planner atau EO dari pameran IPEX tersebut adalah perusahaan EO tempat Almarhum Bapak gue bekerja.

Inget banget saat itu, gue sama Mba Iya pulang pergi ke acara tersebut bareng Bapak. Bapak setiap ketemu sama temen-temen kantornya pasti langsung ngenalin kita berdua "INI NIH ANAK-ANAK GUE" dengan bangganya gitu. Dulu ngebayangin, gue sama Mba Iya yang lagi sebar-sebar brosur gini aja Bapak gue bangga ngenalin ke teman-temannya, apalagi nanti kalau udah sukses beneran hahaa mewek😂.

Bapak bisa dibilang udah punya posisi yang lumayan penting di kantornya yang bergerak di bidang EO tersebut. Sangat mudah bagi Bapak sebetulnya buat "masukin" anak-anaknya buat bekerja di kantornya. Tapi apakah Bapak melakukan itu? Well, no😆. Bapak memang bukan tipe yang mau memanfaatkan jabatannya dan menjadi "orang dalam" bagi karir anak-anaknya.

Bapak memang sudah membiasakan anak-anaknya untuk berjuang sendiri jika ingin meraih sesuatu. Memaksimalkan potensi dan skill yang dimiliki agar bisa bersaing. Dan yang paling penting, (usahain deh) jangan pakai yang namanya "orang dalam". Kalau lo bisa mendapatkan sesuatu dengan usaha sendiri kenapa harus maksa dengan memanfaatkan privilege orang dalam. Referensi, rekomendasi orang dalam, anything you name it, gak salah juga sih. Tapi pesan Bapak itu sejujurnya sangat bermanfaat buat kehidupan gue pribadi sampai saat ini. Effort gue dalam meraih sesuatu jadi semakin besar, gue berusaha untuk selalu mandiri, tidak mengandalkan orang lain dan tentunya jadi makin tawakal sama yang di atas.

2015, jadi SPG perumahan syariah MashaAllah ukhti😆
Terlebih gue itu jaranggg banget update status di social media, banyak diantara teman-teman yang sering kepo kehidupan gue. "Linda kerja dimana sih sekarang?". Karena kebetulan ada momen-momen dimana ketika gue lagi contact-an sama teman sekolah/kuliah, mereka lagi sibuk-sibuknya kerja, guenya lagi free. Mereka lagi free, gue nya yang malah lagi kerja.

Kalau udah liat status job di LinkedIn gue, pasti pada bingung "Gimana bisa dan rasanya bekerja di lebih dari satu perusahaan?". Sebenernya kalau mau di eksplor, banyak juga sih yang sistem kerjanya kaya gue gini. Punya satu settle job dan side job di luar itu, apapun bidangnya.

My LinkedIn Profile

Working in Different Ways

Di pertengahan 2017 sewaktu lagi ngurus proses skripsi, gue ambil job freelance di sebuah start-up digital marketing bernama eDaun Inspirasi Dijital. Lumayan banget untuk nambah-nambah penghasilan di saat krisis menuju fresh graduate. Gue apply job di eDaun dan job freelance lainnya melalui situs Sribulancer. Worth to try banget sih Sribulancer buat orang-orang yang mau cari kerjaan paruh waktu. Next time gue bakal share ya tentang pengalaman gue pakai Sribulancer ini.

Produk dari startup eDaun yang sudah banyak dikenal masyarakat salah satunya website Hemat.id dan saat ini sudah berkembang ke Aplikasi berbasis Android bernama Kliptalog. Kalau kalian masih cukup asing dengan dua produk tersebut, berarti kalian belum termasuk kategori ibu-ibu rumah tangga yang selalu stand by cari promo supermarket😁. Tugas gue di sana juga lumayan simpel pada waktu itu yaitu sebagai EDP (data entry produk). Sistem kerjanya pun juga remote (work from home) dan sangat fleksibel waktunya. Teman-teman gue sesama EDP pun tersebar dimana-mana ada yang tinggal di Bandung, Tangerang, Semarang hingga Yogyakarta.

Kliptalog Apps - Available on Play Store



Pasca gue lulus kuliah, mulai deh apply kerja yang mulai serius sana-sini. Serius di sini dalam arti full time ya. Karena definisi kerja yang sesungguhnya menurut kebanyakan orang, bahkan menurut orang tua gue sendiri adalah dengan berangkat ke kantor every Mon-Fri from 9 to 5, isn't it?😂. Namun karena belum rezekinya, gue belum bisa dapat pekerjaan full time yang cocok. Ada yang jobdesknya enak tapi kantornya jauh, ada yang kantornya dekat tapi gue-nya gak qualified wkwk. Sampai akhirnya gue dapat panggilan dari ESQ Group, karena gue apply di salah satu anak perusahaannya yang bernama ACT Consulting sebagai Class Manager dengan sistem kerja freelance. Alhamdulillah gue diterima di sana setelah proses screening CV dan ikut pelatihan workshop-nya.

Bekerja di rumah sembari ngemong anak bayi, mantap (btw ini keponakan gue si Kanigara😆)
Project Selling The Sail - Event Training Values Internalization Mitsuba Indonesia
Eventnya apa lupa, tapi ini sewaktu peserta dari Adhi Karya mengikuti Gallup Test.

Leaders Alignment Session BRI Finance

Kenapa Gak Kerja Full Time?

Linda kan udah lama ya jadi CM, coba apply jadi tim consultant junior aja. Nanti bisa sambil jalan S2. - Coach Dudi, Trainer ESQ Leadership Center
Gimana kalau untuk fulltime di sini (eDaun)? Kira-kira bisa ikut ke Bandung juga? - Bu Joyce C., Co-Founcer eDaun Inspirasi Dijital
Beliau-beliau, dua orang yang posisinya cukup penting di tempat gue bekerja saat ini, juga pernah menawarkan hal tersebut. Mama pun juga sempat bertanya pertanyaan yang sama "Gak mau coba full time?"

Di balik rasa lelah bekerja dengan sistem yang seperti ini, sejujurnya gue sangat-sangat senang dan bersyukur bisa berada di posisi ini untuk saat ini. Kedua perusahaan ini bisa menerima gue dengan baik. Banyak tugas dan amanah yang diberikan oleh mereka, artinya mereka percaya dengan kemampuan yang gue miliki. Meski di satu perusahaan gue hanya bisa berinteraksi dengan mereka tanpa tatap muka, dan perusahaan yang satu lagi status pekerjaan gue hanya pekerja lepas (based event). Gue juga bisa lebih banyak kesempatan untuk work from home, jadi bisa sambil jaga Mama, yang sekarang udah jadi orang tua tunggal gue selepas meninggalnya Bapak. Jadi tetap ada hikmah kehidupan yang bisa diambil bukan?😄.

Kalaupun gue harus memilih satu, maka akan ada hal lain yang harus gue korbankan. Dan gue belum bisa mengorbankan salah satunya (WKWKW). Bukan egois ya, lebih kepada beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah, kedua tempat ini sama-sama memberikan kesempatan untuk gue untuk terus belajar dan berkembang, dengan sistem kerja yang bisa dibilang terbatas. Yang terkadang kondisinya juga memaksa gue untuk keluar dari zona nyaman. Sebagaimana sebuah kutipan, life begins at the end of your comfort zone.
Share on:
  • ← Previous post
  • Next Post →
  • Menulis dan berbagi, agar tak tergerus akal imitasi
  • Pembelajar seumur hidup
120x120

ldhena

Author

TULISAN LDHENA

Menulis bersama LDHENA

Terfavorit

  • Jurnaldhena's Cooking 101 - Edisi Ramadan
    Let me spill the recipe😋 Tumis daging buncis Bubur sumsum Tahu cabe garam
  • AKHIRNYA LULUS!!!!
    Alhamdulillah..  Officially Linda Dhena Puspita S.Ikom Terima kasih Allah SWT.. Terima kasih Mama, Bapak, Keluarga Opak.. Terima kasih teman...
  • Review Film : 1 Kakak 7 Ponakan
    Beberapa kali menonton karya Yandy Laurens, rasanya gak pernah mengecewakan. Mulai dari web series Sore, film Keluarga Cemara sampai Jatuh C...
  • Tirah, Menjaga Kewarasan dalam Jiwa
    Baru saja menyelesaikan satu film original Netflix berjudul A Normal Woman. Film bergenre drama dan  psychological thriller  ini dibintangi ...
  • Law of Assumption, Membawa Hidup dalam Manifestasi
    Semesta seakan kompak membawa saya pada suatu konsep keilmuan bernama "Law of Assumption". Beberapa waktu lalu, rekan kerja saya, ...

NGL - ANONIM

TANYA!

Kumpulan Goresan

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • Jeda Ramadhan
  • ►  2025 (7)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2024 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2023 (7)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Oktober (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2019 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2017 (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2012 (4)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)

BLOGGER PEREMPUAN NETWORK

INDONESIAN BLOGGER COMMUNITY

Statistik

Profile Linkedin Facebook Twitter Tiktok Instagram

ldhena

༻✿༺

Created By SoraTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates Vector by Freepik