ldhena

༻✿༺

  • 🏡
  • Berkata
    • Curhat
    • Esai
  • Berniaga
  • Berkreasi
    • Masak-Masak
    • Karya

CATEGORY >

Jadi, beberapa waktu lalu saya menonton konten Chef Devina untuk membuat pepes ayam. Karena terlihat sangat lezat, ngidelah saya untuk membuatnya. Saya sempatkan beli beberapa bahan krusial di resep ini (khususnya daun pisang dan daun kemangi).
Kenapa judulnya pada bagian pepes diberi tanda kurung? Ya, karena resep ini sedikit spesial (gagal). Dibilang pepes tapi bentuknya bukan pepes. Tapi bahan-bahannya semua adalah bahan-bahan membuat pepes👀
Dulu-dulu sebetulnya saya sudah pernah bikin ayam bumbu kukus, tapi bumbunya gak sekomplit pepes ayam versi Chef Devina ini. Lalu dalam proses memasaknya, jujur sebetulnya gak terlalu sulit. Soal rasa gak perlu diragukan jugalah. Benar-benar worth to try. Tapi sayang, super failed-nya saya di bagian bungkus-membungkusnya, alias saya gak bisa bikin bungkus pepesnya (baik yang berbentuk panjang/pincuk) wkwk.

Beli ayam dada fillet super murah di sini

Bahan-bahan

  • 500 gr paha ayam boneless
  • Secukupnya daun pisang
  • 1 pcs jeruk nipis/lemon
  • 8 butir bawang putih
  • 8 butir bawah merah
  • 8 pcs cabai merah
  • 5 pcs cabai rawit merah
  • 5 pcs kemiri
  • 1/4 sdt bubuk kunyit
  • 1/4 sdt penyedap rasa
  • 1/4 sdt garam
  • 1 pcs laos
  • 4 batang serai
  • 4 pcs daun salam
  • 1 ikat atau sekitar 100gr daun kemangi, sesuai selera, tapi di sini kunci nikmatnya.
  • 1 pcs tomat
  • Secukupnya daun bawang

Cara membuat

  • Pertama-tama marinasi dulu daging ayam dengan perasan jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis selama 20-30 menit.
  • Haluskan bumbu-bumbu menjadi satu (bawang merah, bawang putih, kemiri, garam, kunyit, penyedap rasa hingga cabai-cabaian). Sisakan beberapa biji cabai rawit merah utuh untuk dimasukkan ke dalam pepesan nantinya.
  • Lalu tumis bumbu halus sampai harum dengan api sedang. Jangan pakai api besar ya karena bakal cepat gosong.
  • Geprek laos, serai dan masukan ke dalam tumisan, tambahkan juga daun salam.
  • Jika bumbu-bumbu sudah semakin harum dan berubah warna jadi agak gelap matikan api. Lalu masukkan ayam, daun kemangi dan daun bawang sambil diaduk-aduk.
  • Jika semua sudah tercampur merata, siapkan lembaran daun pisang dan bungkus daging ayam berbentuk pepesan yang ditambahkan potongan tomat serta cabai rawit merah.
Hehe.. ternyata susah bungkusnya😑

Gak tau ah susah bungkusnya *mode bang mursid alias nyerah*

Udah begini sajalah, gak bisa saya bungkusnya😤
  • Oke gapapa kita skip saja drama bungkus-membungkusnya. Daun pisang tetap bisa saya gunakan dengan cara dihamparkan sebagai alas dan di atas untuk menutupi seluruh panci kukusan seperti di gambar. Selanjutnya kukus daging ayam selama 40-45 menit. 
Agar uap air tidak menetes, tutup panci diberi kain.

Dengan segala drama bungkus-membungkus akhirnya voilaaa... pepes ayam kemangi siap disajikan. Mohon maaf atas kekurangan dalam proses pembuatan, tapi saya jamin soal rasa sudah pasti juara. Yuks coba recook! Atau kalau teman-teman punya tips cara membuat bungkusan pepes, boleh banget yaa dikomen di bawah😏 

Share on:

Baru - baru ini, abang saya satu-satunya, Mas Adhit, berulang tahun yang ke 35. Sebagai adik, saya sih gak ngasih apa-apa wkwk. Entah ini dibilang rezeki atau bukan, tapi ternyata dia mendapat "suatu hadiah" yang gak diduga-duga. Siapa sangka, beliau malah diutus jadi ketua RT secara aklamasi (terpilih karena udah gak ada pilihan lain lagi)😁
Jadi sebelumnya, Mas Adhit itu menjabat sekretaris RT. Namun, ketua RT kami sebelumnya, Pak Aris, baru saja wafat beberapa minggu lalu. Jujur, ketika mendapat kabar ketua RT kami yang sebelumnya meninggal dunia, rasanya sedih dan kaget, karena terakhir bertemu almarhum kondisinya terlihat baik-baik saja. Ditambah lagi almarhum adalah orang yang baik dan banyak membantu keluarga kami ketika kesulitan. 
Mas Adhit yang pertama kali menginformasikan berita duka ini awalnya memang terlihat sedih. Namun seketika raut wajahnya justru menjadi linglung (lebih ke planga-plongo) "gue bakal jadi ketua RT nih". Mendengar ucapannya itu, saya baru tersadar dan sedikit tergelitik karena iya juga, siapa lagi yang bakal gantiin almarhum Pak Aris kalau bukan dia. 
Apakah tidak ada wakil RT? Gak ada. Jadi urutannya Ketua, Sekretaris dan Bendahara RT. Apakah tidak ada yang mau mencalonkan diri? Benar-benar gak ada, gak ada yang mau lebih tepatnya.
Ditambah lagi, Mas Adhit itu dedicated freelance sebagai graphic designer yang kerjanya remote, fulltime di rumah sebagai bapak rumah tangga, bukan pekerja kantoran (dulu iya, tapi cuma bertahan satu tahun karena gak betah punya bos katanya). Ya gayung bersambut, terpantau warga pun juga sebagai lelaki bak pengangguran yang luntang lantung, dialah yang akhirnya ditetapkan sebagai ketua rukun tetangga.
Anehnya, sebelum kepergian almarhum Pak Aris, almarhum sempat memberikan satu tas berisikan berkas dan ATK RT kepada Mas Adhit. Sekaligus beliau izin pamit untuk pulang kampung ke Yogyakarta (Qadarullah, almarhum wafat di kampung halamannya). Pikir Mas Adhit, oh mungkin kalau-kalau warga butuh dokumen/tanda tangan dari RT biar gak repot. 
Bisa jadi ini salah satu firasat almarhum sebelum meninggalkan dunia, menyerahkan tongkat estafet kepemimpinannya untuk digantikan oleh abang saya.

Lelaki (menuju) paruh baya ini berkelahi dengan aspirasi akamsi

Belum ada sebulan menjabat sebagai ketua RT, Mas Adhit banyak mendapatkan aspirasi dari warga untuk menyelesaikan beberapa masalah. Mulai dari keamanan lingkungan, kebersihan, konflik antar warga sampai masalah speaker masjid. 
Yah.. walau nampak banyak cengengesannya, saya yakin Mas Adhit bisa menjadi "sosok" pemimpin yang amanah. Setidaknya, untuk kemaslahatan banyak orang dia gak akan bercanda. Bertahun-tahun hidupnya gak jadi apa-apa, mungkin ini saatnya ia berkontribusi buat negara. Sesimpel menjaga kerukunan antar tetangga😁
Share on:
Setiap kali mendapatkan penugasan keluar kota dari kantor, saya selalu nothing to lose, ya Alhamdulillah, tujuannya memang sekadar untuk bekerja. Selalu memohon perlindungan Allah SWT agar setiap langkah saya dan tim yang berangkat diberikan kelancaran, kemudahan dan sampai bisa kembali ke rumah.
Bolak balik ke Bandung, Palembang, Makassar, sepertinya sudah biasa. Namun di bulan Juli tahun ini sedikit berbeda karena kali pertama saya berkunjung ke Nusa Tenggara Barat.

Kalau untuk agenda training, mayoritas timnya rata-rata Bapak-Bapak. Kali ini saya mendapat kesempatan ke Mataram bersama Mba Ica dan Mba Khansa untuk agenda FGD salah satu BUMD syariah di NTB.

Seringkali agenda pekerjaan yang begitu padat, sangat sulit buat saya dan tim untuk sempat berjalan-jalan. Ya, saya sendiri (jujur) ikut-ikut saja, bisa sempat jalan-jalan ayuk, ngga pun juga gak papa. Namun setidaknya, sebelum balik ke Jakarta, biasanya saya dan tim suka menyempatkan beli sedikit oleh-oleh saja.

Beberapa hari di Mataram dan seluruh agenda pekerjaan sudah terlaksana, ternyata masih ada spare waktu bagi kami pada saat itu untuk berjalan-jalan sejenak. Didukung oleh fasilitas yang diberikan klien untuk mengantarkan kami berkeliling kota NTB meski tidak lama. Kami diajak untuk berkeliling ke daerah wisata Mandalika. Kami warga Jakarta yang baru pertama kali ke daerah ini takjub karena MashaAllah begitu indahnya. Ditambah rasa syukur saya pribadi karena rasa-rasanya ini kali pertama business trip bisa sembari berkelana.

Tapi memang begitu kan, ya, konsep rezeki dari Tuhan yang gak pernah disangka-sangka?😁




Share on:
Awalnya saya gak terlalu tertarik dengan makanan yang teksturnya creamy atau terdapat bahan-bahan dari olahan susu atau krim. Mungkin karena lidah ini terbiasa dengan sajian khas Indonesia yang penuh rempah-rempah, ya. Jadi begitu mencoba hidangan internasional ala-ala, ternyata gak terlalu ngeklik di lidah. Sama ketika pertama kali saya mencoba pasta fettucini carbonara di salah satu resto di Jakarta.

Kalau untuk resep originalnya, Creamy Fettucine Carbonara sebetulnya kombinasi pasta dengan telur, bacon dan bawang putih. Pasta fettucini carbonara yang saya santap waktu itu pastinya halal ya, non pork, jadi untuk dagingnya diganti dengan potongan smoked beef. Rasa creamy-nya begitu kental dan  saya merasa cukup yakin resep orisinilnya memang seperti ini. Meski rasanya masih agak asing, tapi masih tetap bisa disantap (kalau disuruh repeat order, maaf gak dulu😂).

Sebab, kalau dibandingkan dengan sajian pasta lainnya yang masih sering saya santap, ya.. tidak jauh-jauh dari Spaghetti Bolognaise. Kombinasi rasa saus tomat bolognaise masih terasa enak menurut lidah saya. 



Karena beberapa kali lihat VT masak-masak, salah satunya untuk hidangan pasta, saya cukup penasaran buat recook creamy fettucine carbonara. Jadi saya mencoba recook dengan bahan-bahan yang ada di rumah dan ternyata hasilnya enaaaaa😭. Mungkin gak seorisinil resep aslinya, tapi menurut saya rasanya masih sangat bisa disesuaikan dengan lidah orang Indonesia seperti saya. Langsung saja simak di bawah spill resep lengkapnya~ 

Bahan-bahan

  • 150 gr pasta fettucine (untuk 1 porsi)
  • 500ml air untuk merebus pasta
  • 2 sdm olive oil/minyak goreng
  • 2pcs bawang putih
  • 1/2pcs bawang bombay
  • 100 ml susu UHT full cream (boleh juga menggunakan cream)
  • 1/2 sdt garam
  • 1/2 sdt lada
  • 1 slice smoked beef
  • 1 sdt keju parmesan
  • 1 sdt keju cheddar
  • 1/2 sdt Parsley (harusnya Oregano, tapi adanya ini😏)

Cara membuat

  • Rebus air sampai mendidih, tambahkan sedikit garam dan minyak untuk merebus pasta agar tidak lengket.
  • Rebus pasta selama 5-10 menit, jangan sampai terlalu matang/lembek karena nanti akan dimasak kembali bersama saus pasta. Jika sudah makan, tiriskan.
  • Iris halus bawang putih, bawang bombay dan tumis sampai harum menggunakan olive oil.
  • Masukkan smoked beef untuk ditumis bersama bawang.
  • Masukkan susu UHT ke dalam tumisan. Jika ingin tekstur creamy yang lebih kental bisa tambahkan 1 sdt tepung maizena untuk menambah kekentalan.
  • Jika sudah mendidih dan air sudah sedikit menyusut, masukkan semua pasta.
  • Taburkan secukupnya keju parmesan, cheddar dan parsley. Jika ingin agak pedas bisa tambahkan lada dan garam (opsional).

Voilaaa! Creamy Fettuccine Carbonara siap disajikan. Sajian pasta ini berbeda dengan Spaghetti Bolognaise/Tuna yang bumbunya dapat disajikan terpisah dan tinggal disiram ketika mau dimakan. Sehingga  Creamy Fettuccine Carbonara ini harus langsung disantap selagi hangat-hangat ya. Jadi ayoo coba recook juga!

Beli pasta Fettucine di sini
Share on:
Happy World Bicycle Day!

Masih dalam rangka World Bicycle Day yang diperingati tanggal 3 Juni setiap tahunnya. Saya si FOMO pesepeda turut bersemangat merayakan ini 😁

Dilansir dari WHO, bersepeda menjadi salah satu tools olahraga sekaligus alat transportasi yang simple, terjangkau dan ramah lingkungan. Ditetapkannya World Bicycle Day juga menjadi wujud advokasi agar mendorong para pemangku kepentingan untuk mendukung penggunaan sepeda hingga penyediaan sarana, yang nantinya akan berdampak pada pembangunan berkelanjutan, memperkuat pendidikan jasmani dan tentunya manfaat pada kesehatan. 

Saya pun mutualan dengan beberapa orang di Strava yang rata-rata usianya itu mungkin seusia Bapak/Ibu pensiunan😁. Tapi yang bikin salut, mereka masih tetap semangat dan terus update aktivitas gowes mereka yang hampir dilakukan setiap hari. 

Meskipun saat ini saya belum join komunitas (hopefully soon), setiap kali gowes sering banget ketemu sama rombongan gowes yang mostly orang-orang tua. Ah, rasanya jadi malu kalau masih malas-malasan. Jadi ya.. harapan terbesarku ke depannya, (setidaknya) konsistensi dalam bersepeda harus terus terjaga. Keep moving! Let's go(wes)!🚴
Share on:
  • ← Previous post
  • Next Post →
  • Menulis dan berbagi, agar tak tergerus akal imitasi
  • Pembelajar seumur hidup
120x120

ldhena

Author

TULISAN LDHENA

Menulis bersama LDHENA

Terfavorit

  • Review Film : 1 Kakak 7 Ponakan
    Beberapa kali menonton karya Yandy Laurens, rasanya gak pernah mengecewakan. Mulai dari web series Sore, film Keluarga Cemara sampai Jatuh C...
  • Tirah, Menjaga Kewarasan dalam Jiwa
    Baru saja menyelesaikan satu film original Netflix berjudul A Normal Woman. Film bergenre drama dan  psychological thriller  ini dibintangi ...
  • Recap of Dar Der Dor 2024
    Terima kasih Linda sudah bertahan hingga penghujung akhir 2024. Tahun yang begitu banyak kejutan di dalamnya. Rezeki berupa nikmat sehat dan...
  • Resep Bubur Sumsum Gula Merah
    Dalam rangka malas jajan-jajan di luar untuk menu berbuka, kali ini saya coba recook resep bubur sumsum yang dulu suka dibuat oleh Almh. Mam...
  • Kembali Menghidupkan Hidup
    Sambut tahun baru dengan resolusi-resolusi yang (mungkin) banyak belum tercapai di tahun lalu. Gak papa. Kita coba lagi dari awal. Sudah bis...

PORTOFOLIO LDHENA

Cek!

Kumpulan Goresan

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  Agustus (1)
      • Tirah, Menjaga Kewarasan dalam Jiwa
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2024 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2023 (7)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Oktober (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2019 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2017 (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2012 (4)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)

BLOGGER PEREMPUAN NETWORK

INDONESIAN BLOGGER COMMUNITY

Statistik

Profile Linkedin Facebook Twitter Tiktok Instagram

ldhena

༻✿༺

Created By SoraTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates Vector by Freepik