ldhena

༻✿༺

  • 🏡
  • Bercerita
    • Curhat
    • Esai
  • Beropini
  • Berkreasi
    • Masak-Masak
    • Karya

CATEGORY >


Jelang hari raya Idul Fitri, hiruk pikuk kesibukan di rumah dimulai. Hari itu Bapak sibuk memperbaiki keran dan aliran air yang mampet. Karena memakan banyak waktu, Bapak tidak sempat ke masjid, jadi hanya bisa salat di rumah saja. Ketika mulai larut malam, saya lihat beliau melaksanakan solat Isya dilanjutkan dengan sholat tarawih. Saya tahu betul, Bapak sudah lelah karena habis beberes rumah, jadi untuk salat Isya saja pun sebenarnya sudah sangat cukup. Namun, malam itu, ia tetap bersemangat menghidupkan ibadah sunnah tersebut.

Momen itu berlangsung sekitar 8 tahun lalu sebelum Bapak berpulang. Berpulang bertepatan pada 2 Syawal. Meski itu sebetulnya adalah duka, hal itu juga menjadi core memory seumur hidup saya untuk selalu mensyukuri dan menghargai betapa berartinya sebuah waktu (re: Ramadan).
 
Bapak begitu bersemangat menjalani Ramadan pada tahun itu, yang ternyata itu Ramadan terakhir baginya. Hal itu juga yang membuat saya selalu "tersentil" tiap kali abai dalam memaksimalkan ibadah di bulan yang penuh ampunan ini. Tahun depan, apa kita masih bisa dipertemukan kembali?

Itikaf - Jeda dari Kehidupan yang Menyesakkan



Ini tahun ketiga saya ikut melaksanakan itikaf, salah satu amalan sunnah di bulan suci Ramadan. Saya meyakini sebuah hadist yang menyebutkan keutamaan bagi perempuan untuk ibadah di rumah saja. Tapi, bismillah, saya merasa ini satu-satunya cara bagi saya untuk bisa lebih fokus dan tidak terdistraksi dari segala urusan duniawi, baik urusan rumah maupun pekerjaan. Ditambah, banyaknya teman-teman akhwat semakin menambah energi untuk semangat menghidupkan malam-malam sebelum Ramadan berakhir. Karena jujur saja, distraksi di rumah begitu banyak. Baru baca beberapa lembar halaman Al-Qur'an, ketika melihat kasur bawaannya sudah mengantuk. Selalu resah melihat laptop untuk melanjutkan beberapa tugas yang masih tertunda. Suara-suara ramai keponakan saya yang suka bercanda, baku hantam dan terlebih lagi memanggil-manggil "Ondaaaaa"😆

Meski tidak sampai full 10 hari, itikaf ini menjadi momen bagi saya untuk jeda, rehat sejenak dari keriuhan dunia. Momen bagi diri ini merefleksikan diri. Meski masih sangat jauh dari kata sempurna, telah diizinkan-Nya untuk melaksanakan rangkaian ibadah di Ramadan ini adalah nikmat yang tiada tara.


Alhamdulillah ala kulli hal, terima kasih, ya Allah, masih memberikan kami kesempatan menjalani nikmatnya ibadah di Ramadan tahun ini.
Terima kasih telah mempertemukan kami dengan orang-orang baik dan rezeki yang melimpah dengan ragam bentuknya selama Ramadan ini.
Semoga Allah SWT masih memperkenankan kita semua berjumpa kembali di Ramadan yang akan datang.

29 Ramadhan 1447 H
-jurnaldhena
Share on:
Semesta seakan kompak membawa saya pada suatu konsep keilmuan bernama "Law of Assumption". Beberapa waktu lalu, rekan kerja saya, Mba Galuh, sempat sharing terkait hal itu. Karena kebetulan kami berada di suatu event yang sama di wilayah Anyer, ia berbagi tentang bagaimana law of assumption digunakan sebagai mental state dalam kehidupan, baik personal maupun secara profesional. Tidak sampai di situ, FYP Tiktok saya juga secara tiba-tiba ramai dengan kreator yang membahas Law of Assumption ini.
Reprogram Your Self-Concept with Neville Goddard's Techniques

Make a du'a and live like it's already answered

Alih-alih menggunakan "manifesting", dalam law of assumption Neville Goddard, kita akan memaksimalkan penggunaan subsconcious dan conscious mind pada otak bahwa apa yang dipikirkan dan dipercaya oleh kita maka itu bisa menjadi realita. Dalam hukum ini, kita dibawa untuk membangun self belief bahwa kita percaya bahwa hal yang diinginkan itu telah terjadi dan kita telah menerimanya. 

Fake it, until you make it.

Tampak memiliki kesamaan untuk sama-sama menjadikan goals tercapai secara realita. Namun dalam merealisasikan mimpi, gunakan tone positif untuk sesuatu yang ingin diraih. 
Tidak terlambat bangun solat subuh > Solat subuh tepat waktu
Kurangin gula, junkfood > Perbanyak real food, plain is best 
Law of assumption gak ada dalam ajaran Islam. Secara spesifik, betul, memang tidak ada. Tapi kita pasti tidak asing dengan istilah Husnuzan. Saya selalu percaya bahwa ketetapan Allah SWT adalah yang terbaik. Kita sebagai manusia, hanya bisa berikhtiar, memotivasi diri sendiri untuk mencapai tujuan dan selalu mengharap ridho-Nya. 



*Sebuah tulisan yang cukup spesial karena ditulis bertepatan dengan 30 tahun usia saya^^*
-jurnaldhena
Share on:
"Gak pernah semuak ini jadi WNI"
Ya Tuhan kenapa aku WNI, #kaburajadulu - seringkali digunakan sebagai yapping yang sering digaungkan saat kami merasa sudah sangat lelah hidup sebagai masyarakat di negara yang (mungkin) gak bakal pernah maju ini. 
Namun, rasa muak sebagai WNI semakin memuncak akhir-akhir ini. Genap 8 dekade Indonesia merdeka, bahkan belum habis bulan Agustus, kami sebagai warga negara harus dihadapkan dengan beragam tragedi yang sangat menyesakkan dada.
Belum hilang di bayangan saya, sosok kecil Raya yang meninggal dunia karena infeksi cacing kronis pada tubuhnya. Kami harus menghadapi adanya kenaikan tunjangan bagi anggota dewan yang rasanya sangat tidak masuk akal, di saat rakyatnya saja sulit buat makan dan mengakses layanan kesehatan yang layak. Ditambah, kelakuan pejabat tolol di parlemen yang tone deaf, mati empatinya, namun masih bisa menari-nari di atas kesengsaraan masyarakat Indonesia.

Affan dibunuh Polisi

Rekaman itu trending di X, berseliweran di lini masa tanpa editan, tanpa sensor. CCTV aksi massa saat itu bukan berupa CCTV Bardi, tapi dari kamera ponsel masyarakat di sekitar Gedung DPR/MPR RI pada 28 Agustus 2025. Rekaman itu merekam Affan, seorang driver online Gojek yang meninggal dunia karena dilindas oleh barracuda Brimob. Mobil taktis yang dengan sengaja di-gas ngeng padahal banyak masyarakat di sekitarnya sedang melakukan aksi unjuk rasa. Sekali lagi, Affan dibunuh polisi.
Who do you call, when the police murders?
Reset Indonesia bukan sekadar akal-akalan antek asing, bukan sekadar tagline kampanye di sosial media. Tapi bentuk harapan, perbaikan buat negara ini.
Sebab nyatanya kami hanya ingin memberi aspirasi bukan dibuat mati. 

- jurnaldhena
Share on:


Baru saja menyelesaikan satu film original Netflix berjudul A Normal Woman. Film bergenre drama dan psychological thriller ini dibintangi Marissa Anita, Dion Wiyoko, Gisella Anastasia, sampai aktris senior, Widyawati. Singkatnya, film ini berkisah tentang Mila (Marissa Anita) sebagai sosok perempuan yang hidup dalam standar istri dan ibu yang sempurna. 

Konflik ceritanya pun bermacam-macam, ada dari ibu kandung yang materialistis, ibu mertua yang perfeksionis (keduanya sama-sama toxic), punya suami juga anak mami, anak yang rebel karena menjadi korban bullying, hingga pada puncaknya ketika Mila harus bertarung mengatasi trauma masa lalu yang membuat dirinya berperilaku abnormal. Asumsi saya, tokoh Mila ini dibuat mengalami psikosomatis, akibat stress berlebih timbul reaksi fisik yang ekstrim pada diri Mila. Jadi memang gak ada hantu ataupun magic di film ini.

Ide cerita dari film ini mengangkat mental health issue, patriarchy in society, racial issue, dan bahkan bagaimana lingkungan yang toxic lama-lama bisa membunuh. Namun, yang bikin jelek, menurut saya, alur cerita yang cenderung loncat-loncat. Beberapa konfliknya juga terkesan maksa dan diada-adain. Trauma di masa lalu Mila (dalam versi anak-anak) yang menjadi background story juga gak begitu matang untuk diangkat. 

Bagi kalian yang sudah menonton sampai di pertengahan cerita dan mengira bahwa Mila ada affair dengan sosok tukang kebun di rumahnya, berarti saya gak sendiri - yakin pasti ada yang mikir begini. Gak paham juga kenapa harus si tukang kebun itu karakternya kaya begitu, bikin curiga aja😆

Saya pribadi tidak membuat review khusus film A Normal Woman ini karena jujur jalan cerita yang cukup hmmm (sorry, Mommy Marissa Anita, in this movie your performance is top notch but not for the whole story😂). Hampir 2 jam menonton film ini, agak kecewa karena saya rasa konfliknya seharusnya bisa lebih seru dari ini. Overall cuma bisa kasih 5/10. Tapi saya tetap akan mengambil beberapa insight yang memang cukup menarik. Meski begitu, tetap spoiler alert ya. Jadi, bookmark dulu saja kalau kalian masih mau nonton filmnya, nanti balik lagi hehe.

Body - Mind - Soul is Matter
Salah satu ide cerita yang saya cukup sukai di film ini adalah mengangkat bagaimana stigma masyarakat terhadap orang-orang dengan mental health issue itu sama dengan orang yang kurang iman, a.k.a jauh dari Tuhan. Ada adegan dimana Mila ini didoakan oleh pendeta (seperti exorcist) untuk dijauhkan dari kejahatan iblis, kalau di Islam mungkin semacam ruqyah. Mengingat apa yang terjadi juga dengan almarhumah kakak saya dulu, Mba Iya, yang wafat karena gerd anxiety. Percayalah, gak elok kalau kita langsung men-judge orang dengan masalah mental itu semata-mata karena kurang ibadah. 

Sedikit flashback, Mba Iya dulu meninggal di tahun 2021, masih zamannya Covid. Punya gerd, ditambah kondisi pandemi yang serba bikin parno, rasanya jadi kombo maut yang mudah mentrigger asam lambung naik. Sama seperti yang dialami Mila, tekanan yang dialaminya menimbulkan reaksi di tubuhnya. Jadi, jika ada dari kalian mengalami hal serupa, melakukan pengobatan secara medis (professional help) dan non medis (berkaitan dengan spiritualitas) menurut saya sangat perlu dilakukan sebagai bentuk ikhtiar penyembuhan. Sebab tubuh, pikiran dan jiwa adalah satu kesatuan yang holistik (selaras dan senantiasa waras).

Tirah, Sebuah Upaya Pemulihan Jiwa
Lalu bagaimana akhir dari film A Normal Woman ini? Karakter utama kabur dan happy ending😁. Ya begitu ending ceritanya, escaping the reality. Meski terkesan "lah udah gitu doang si Milanya kabur ke desa?". Namun, jalan yang ditempuh Mila ini bisa dibilang sebagai bentuk intervensi dalam mengatasi masalah hidupnya. 

Yap, tokoh Mila ini pergi dari "kehidupannya" atau bisa disebut tirah. Tirah dalam bahasa Jawa sendiri artinya istirahat atau pergi sejenak ke tempat lain untuk memulihkan diri. Kalau dikaitkan dengan hal spiritual mungkin bisa dibilang menjauh dari kehidupan yang biasa dijalani sehari-hari untuk menenangkan diri (gak jarang ada yang bilang juga ini treatment untuk buang sial). 

Kalau tidak mau mengaitkan dengan hal mistis, gunakan perspektif logika. Pergi ke tempat baru, healing, or anything you name it, menurut saya itu bisa menjadi salah satu alternatif untuk membuat jiwa tetap waras. Bayangkan, bertahun-tahun hidup di tempat yang sama, dengan rutinitas yang sama, berulang, setiap harinya, apa gak mumet?. Kalau merasa "ada yang gak normal deh selama hidup di tempat ini", sebetulnya bukan diri kita yang sepenuhnya salah, tapi bisa jadi lingkungan yang memicu masalah di dalamnya. 


Apa kamu pernah mengalami hal seperti itu? Berbagi di kolom komentar ya! Karena saya jadi kepikiran, apa sudah waktunya untuk tirah juga?😁

-jurnaldhena
Share on:
Punya kawan yang berprofesi sebagai guru, seringkali membuat saya harus menyesuaikan jadwal nongkrong dengan kalender akademik yang mereka punya. Termasuk untuk libur sekolah di pertengahan tahun ini. Jujur, gak terlalu sulit buat saya sebagai pekerja nomaden untuk tetap bisa kumpul bermain dengan mereka. Simpelnya, "gue ngikutin kalian aja".

Dua kawan saya ini sama-sama pengajar, Cibul guru SD dan Vita seorang guru SMK. Masing-masing sudah punya agenda untuk mengisi waktu liburan sekolah. Cibul rencana pergi ke Malang menemui adiknya yang kuliah di sana, sementara Vita ingin pergi ke Jogja mengikuti baking class (sebelum saya tahu alasannya, ini paling gak make sense jauh-jauh ke Jogja cuma buat belajar bikin kue).

Sebelumnya, wacana jalan-jalan bareng mereka memang sudah ada, tapi belum pernah kesampaian. Nah, jadilah momen libur sekolah kali ini yang sangat memungkinkan untuk direalisasikan rencana tersebut.

"Ayo ke Jogja", ucap Vita dalam chat WA-nya malam itu.
"Ayok dah", tiba-tiba saya menimpali pesan Vita itu dengan asbun. Padahal saya cuma basa-basi aja, jujur, paling gak jadi lagi😄. 

Ternyata, beneran jadi.

Bukan sekadar wacana, kali ini perjalanan ke Jogja kami beneran terealisasi. Menyiapkan itinerary, survei penginapan yang murah-murah, semua kami siapkan dengan serba mendadak. 

Bersua dengan kawan lama

Sebetulnya selain jalan-jalan, tujuan utama kami ke Jogja juga karena ingin menemui salah satu kawan lama kami sejak SMA, Budi namanya. Ups, sekarang panggil beliau Pak Budi, ya (maklum sekarang sudah jadi guru, sungkan manggil bad bud bad bud).
Lama tak jumpa, Budi justru sudah mem-branding dirinya sebagai Pak Nugi di sekolahnya. Gak ada yang berubah dari beliau, cuma keliatan lebih banyak brewokan saja.
Bersyukur dan merasa sangat senang bisa ketemu kawan lama yang mungkin setelah belasan tahun kami lulus SMA dan gak pernah ketemu lagi. 


Sekian jam kami nongkrong, saling bertukar kabar, cerita, nostalgia masa-masa sekolah dulu, happy betul rasanya. Melalui pertemuan ini, meski selalu ada momen-momen saling adu nasib "lo mah enak..." saya semakin menyadari bahwa setiap orang punya battlefield-nya masing-masing. Tapi harapan saya, semoga kalian selalu berbahagia dengan apa yang kalian jalani saat ini💖

Menemui kawan yang sudah lama tak berjumpa sepertinya menjadi salah satu bucketlist saya dalam waktu beberapa waktu ke depan (mumpung masih single dan bebas kemana-mana). Toh, jalin silaturahmi juga membuka banyak pintu-pintu rezeki, bukan? 

-jurnaldhena

Share on:
Dalam rangka malas jajan-jajan di luar untuk menu berbuka, kali ini saya coba recook resep bubur sumsum yang dulu suka dibuat oleh Almh. Mama. Beberapa kali beli bubur sumsum sebagai tajil berbuka puasa, tapi selalu kurang puas dengan tekstur dan rasanya. 
Namun, yang saya paling ingat dalam membuat bubur ini adalah butuh effort lebih dalam mengaduknya, supaya bubur menjadi kental merata dan tidak gosong. 

Dengan bahan-bahan yang sangat mudah ditemui di pasaran, langsung saja, berikut resep simpelnya (untuk 4-5 porsi).

Bahan-bahan bubur sumsum:
300 ml air
100 gr tepung beras
Secukupnya garam
400 ml santan (sudah berupa campuran 1 pcs santan kara instan dengan air atau full air santan kelapa asli is good) 
1 sdt essence pandan/selembar daun pandan

Resep air gula merah:
100 gr gula merah atau 3 pcs gula merah bulat
150 ml air
Secukupnya garam (ini sejumput saja sudah oke, hanya untuk memberi rasa gurih)
1 sdt essence pandan/selembar daun pandan

Cara membuat bubur sumsum:
  • Saring terlebih dulu tepung beras dengan saringan untuk menghilangkan kotoran dan mendapatkan tekstur tepung yang lembut.
  • Masukkan air ke dalam panci dan campurkan tepung beras. 
  • Tambahkan sedikit demi sedikit air santan, garam dan pandan.
  • Masak hingga mengental dan tidak ada tepung yang menggumpal. 
  • Aduk terus dengan api kecil maupun sedang hingga bubur menjadi lembut. Sebaiknya, jangan mengaduk bubur sampai ke dasar pinggiran panci, karena biasanya akan ada bagian bubur yang sudah mengerak dan rasanya pahit.
Tips!
Masak buburnya dulu biar fokus, jangan disambi masak air gula, biasanya lupa diaduk buburnya dan jadi gosong😁

Next, cara membuat air gula merah:
  • Masukkan air ke dalam panci, campurkan gula merah, pandan dan masak dengan api sedang, lalu aduk hingga merata.
  • Apabila sudah mendidih angkat dan saring air gula untuk menghilangkan ampas.
  • Sajikan bubur dengan dicampur air gula ketika ingin langsung disantap. 
Jika bubur dan air gula sudah tidak terlalu panas bisa masukkan ke dalam kulkas agar lebih awet. Buat saya pribadi, bubur sumsum pun akan lebih enak jika dimakan ketika dingin. So, let's recook this recipe and enjoy!



Share on:

Beberapa kali menonton karya Yandy Laurens, rasanya gak pernah mengecewakan. Mulai dari web series Sore, film Keluarga Cemara sampai Jatuh Cinta Seperti di Film-Film. Setiap karya yang disutradarainya membuat penonton tidak perlu berpikir terlalu berat. Ditambah lagi, saya belum pernah menemukan hal-hal yang cringe di setiap karya beliau, jadi semua terasa begitu pas. Ya, mungkin karena saya pecinta film/series yang ringan-ringan juga, jadi setiap karya Yandy Laurens selalu menyenangkan untuk ditonton sampai akhir.

In Yandy Laurens we trust!

Tahun ini, salah satu film karya Yandy Laurens rilis berjudul Satu Kakak Tujuh Ponakan. Film ini pun ternyata adaptasi dari sebuah sinetron di tahun 90an dengan judul yang sama. Saya belum pernah menonton series aslinya, tapi sudah cukup terbayang film ini akan berkisah tentang seseorang yang repot mengurus banyak keponakan (seperti saya😂). 

Film ini mengisahkan sosok Moko seorang mahasiswa arsitektur yang tinggal bersama keluarga Kakaknya (Agnes dan Atmo) dengan memiliki 4 orang anak. Sejak keponakan-keponakannya lahir, Moko tidak mau dipanggil sebagai "om", namun ia lebih suka jika disebut sebagai "kakak". 

Ketika Moko sudah memasuki tingkat akhir perkuliahannya, kakak iparnya (Atmo) dan tak lama kakak kandungnya (Agnes) meninggal dunia dalam jarak waktu yang berdekatan. Atmo meninggal dunia karena serangan jantung, sementara nyawa Agnes tidak terselamatkan ketika melahirkan anak keempaatnya, Ima. Alhasil, almarhum/almarhumah kakak dan kakak ipar Moko meninggalkan 4 orang anak yang harus diasuhnya (Nina, Woko, Ano, Ima).

Ponakannya cuma ada 4, terus 3 lagi mana? Yap, di sinilah satu per satu konflik mulai timbul. Ketika suatu hari, mantan guru les piano Moko bernama Pak Nanang menitipkan anaknya, Ais, untuk turut diasuh oleh Moko. Kebayang sih capeknya, mengurus 4 anak kecil saja rasanya sudah berat, lalu dapat amanah lagi buat mengasuh anak orang😖

"Pokoknya Ais janji akan jadi anak baik dan gak akan ngerepotin, sama sekali", ucap janji gadis berambut keriting ini kepada Moko. Dan janji itupun benar dipenuhi oleh Ais, karena Ais mampu menjadi anggota keluarga Moko yang menyenangkan, saling menyayangi satu sama lain dan sama sekali gak ngerepotin *peluk Ais*. 

1 kakak 5 ponakan 2 beban

Akan terjawab rasa penasaran "kenapa ada 7 ponakan?, dan yap, masalah yang sesungguhnya justru datang dari kakak kandung (Osa) dan kakak iparnya Moko (Eka). Kehadiran Mas Eka dan Kak Osa justru menjadi "beban" sesungguhnya bagi Moko. Bahkan Mas Eka sudah memvalidasi sendiri "Biasanya orang sungkan akan selalu dipertemukan dengan orang ga tau diri".

..boleh dong saling memperjuangkan?

Part romance memang paling menyenangkan, apalagi kalau couple-nya sama-sama greenflag. Jadi kalau dilihat hidup Moko kayaknya tuh sedih banget, ternyata engga juga, soalnya ada Maurin si support system terbaik yang selalu ada di sisinya. Bahkan di saat Moko berada di titik terendah sekalipun, Maurin masih setia buat nemenin Moko dan berjuang buat hubungan mereka. Ya Allah mau Maurin versi cowok😹

Film ini mendapatkan banyak respon positif di social media, walau memang saya sempat menemukan ada beberapa kritik karena katanya beberapa scene Moko as a anak arsi gak terlalu relevan di dunia arsitektur, apa iya? Bagi orang-orang awam seperti saya mungkin tidak terlalu menganggu, tapi bolehlah kalau ada anak arsi mau kasih komen silakan banget ya!

Sebuah film yang hangat, menyenangkan, gak menye-menye. Pas banget ditonton sama keluarga, teman maupun pasangan kalian. Recommended by jurnaldhena!⭐⭐⭐⭐

Share on:


Sambut tahun baru dengan resolusi-resolusi yang (mungkin) banyak belum tercapai di tahun lalu.
Gak papa. Kita coba lagi dari awal. Sudah bisa bertahan hingga saat ini juga sebuah pencapaian terbaik bukan?😌

-jurnaldhena
Share on:
Terima kasih Linda sudah bertahan hingga penghujung akhir 2024. Tahun yang begitu banyak kejutan di dalamnya. Rezeki berupa nikmat sehat dan nikmat iman yang selalu Allah SWT berikan, juga selalu menjadi penguat bagi diri ini untuk terus berjalan ke depan. 

Stroll around Indonesia


Salah satu hal yang paling disyukuri dari pekerjaan saya adalah kesempatan untuk keliling Indonesia. Tahun ini, bersyukur banget Alhamdulillah bisa sampai ke Palembang, Bandung, Mataram, Samarinda💖

Scalling gigi for the first time!


Selalu ada hal pertama dalam hidup dan yap! Inilah kali pertama seumur hidup saya ke dokter gigi wkwk. Selain mengejar promo akhir tahun, sekaligus ya memang butuh juga ni gigi dibersihin. Btw saya coba scalling di OMDC Mampang. Tanpa promo, sebetulnya biaya perawatan di klinik ini terbilang pricey ya. Tapi memang menurut saya pribadi cukup bagus pelayanannya, mulai dari area perawatan gigi yang thematic ala-ala Japanese, pegawai sampai dokter yang ramah. Ya, meskipun saya pribadi belum ada comparing dengan dokter gigi lain (because it was my first time haha).

Bike to fill my happiness!



Menutup akhir tahun bareng Rodalink PI. Hampir 1,5 tahun terakhir menghidupkan habit untuk gowes dan mencari teman baru dan itu sangat-sangat menyenangkan💗. *Thanks to Coach Deny yang udah mendampingi until finish😂

And this is the end of 2024. Thank to myself that survive 365/365 in this year.
Bersyukur karena banyak pengalaman, pelajaran, tawa, tangis yang sudah saya lalui selama satu tahun ini. Terima kasih kepada orang-orang yang telah hadir dan mungkin telah pergi dari hidup saya untuk memberikan pelajaran berharga.
Bismillah for the new chapter of my life in 2025💫

- jurnaldhena





Share on:
Killing time kali ini menyempatkan untuk hadir di acara Indonesia International Book Fair 2024. Di tahun ini, IIBF diadakan dari tanggal 25-29 September 2024 di Cendrawasih Hall - Jakarta Convention Center (mulai pukul 09.00 - 21.00 WIB). Yes! Masih ada kesempatan sampai besok. Acara ini gratis, begitu masukpun tidak perlu menunjukkan tiket/mengisi registrasi apa-apa. Tapi pengunjung perlu konfirmasi kehadiran di link ini s.id/tiketIIBF2024 dan bisa mendapat kesempatan untuk dapat doorprize. Seru gak tuh?👀

Buat kalian yang suka buku, acara ini cukup worth it buat dikunjungi. Jadi siap-siap ketemu banyak bibliophile dan (siapkan budget lebih) buat kalap beli-beli buku! 

Ada beberapa ilustrasi/gambar/instalasi yang dipamerkan di IIBF 2024
Indonesia International Book Fair (IIBF) ini salah satu pameran buku tahunan yang terbesar di Indonesia. Sudah menjadi agenda tahunan, tapi saya baru berkesempatan datang di IIBF tahun ini.😁Di sini kalian bakal banyak banget bertemu dengan sesama pecinta buku, penerbit, penulis, dan banyak pelaku industri kreatif lainnya di bidang literasi, baik dari Indonesia maupun mancanegara.
Talkshow interaktif bersama para penulis ternama

Best Deal, Pameran, Gift Sampai Talkshow Interaktif

Beragam promo buku-buku bisa kalian temukan di sini mulai dari kategori fiksi, nonfiksi, anak-anak, pelajaran, referensi dan masih banyak lagi. Pokoknya ajak deh keluarga, pasangan dan teman-teman kalian ke IIBF, benar-benar seru banget ngeliat banyak literacy enthusiast di sini. Selain bazaar buku, IIBF juga punya berbagai kegiatan seru lainnya. Mereka mengadakan talkshow, bedah buku, cosplay, sampai games berhadiah di beberapa spot tenant. Jadi, selain dapat buku, kalian juga bisa banyak belajar di sini.
Bingung pilih yang mana👀

Ada banyak negara yang menjadi partisipan di acara ini. Dalam agenda Guest of Honour, berbagai negara hadir ikut memamerkan literatur mereka. Ada stan khusus lengkap dengan pameran budaya dan literasi khas negara tersebut. Beberapa di antaranya dari negara Malaysia, China, Korea, hingga Palestine dan masih banyak lagi. Jadi, selain dapat buku, kamu juga dapat wawasan baru soal budaya negara lain. Menarik banget!

Spot buku termurah sejauh yang saya temui di IIBF 2024

BookHack!

Saya pribadi bukan kolektor buku, hanya sekadar tipe pembaca saja. Karena saya sendiri pun masih sering main-main ke Perpustakaan Cikini, jadi jujur saya lebih pilih meminjam buku daripada beli wkwk. 

Banyak kategori buku yang bisa kalian temukan

Alhasil di event ini saya hanya mencari buku yang menarik untuk dibeli, rare item dan tentunya promo. Sembari menelusuri hall JCC ini, saya membuka e-katalog koleksi Perpustakaan Cikini. Jadi kalau buku tersebut ada Perpuscik, saya prefer akan meminjam saja nanti di sana #sebuahhack. 

Ada beberapa buku yang bertanda khusus, menandakan bahwa buku-buku tersebut baik dibeli satuan/bundling bisa mendapat harga yang lebih murah. Jadi kita sebagai pembeli harus benar-benar jeli untuk dapat best deal-nya.

Gramedia Group, sudah ada diskon tapi masih terasa mahal 😂

Sedikit oleh-oleh dari IIBF (untuk saya dan keponakan di rumah)

Namun jika kalian adalah tipe yang suka mengoleksi buku silakan sekali, event ini sangat cocok buat kalian yang mencoba hunting buku-buku bagus dengan menarik. Pastikan untuk teliti, (tidak impulsif😂) dalam memilihnya agar tetap bisa mendapatkan harga terbaik. Happy hunting!

Share on:
Jadi, beberapa waktu lalu saya menonton konten Chef Devina untuk membuat pepes ayam. Karena terlihat sangat lezat, ngidelah saya untuk membuatnya. Saya sempatkan beli beberapa bahan krusial di resep ini (khususnya daun pisang dan daun kemangi).
Kenapa judulnya pada bagian pepes diberi tanda kurung? Ya, karena resep ini sedikit spesial (gagal). Dibilang pepes tapi bentuknya bukan pepes. Tapi bahan-bahannya semua adalah bahan-bahan membuat pepes👀
Dulu-dulu sebetulnya saya sudah pernah bikin ayam bumbu kukus, tapi bumbunya gak sekomplit pepes ayam versi Chef Devina ini. Lalu dalam proses memasaknya, jujur sebetulnya gak terlalu sulit. Soal rasa gak perlu diragukan jugalah. Benar-benar worth to try. Tapi sayang, super failed-nya saya di bagian bungkus-membungkusnya, alias saya gak bisa bikin bungkus pepesnya (baik yang berbentuk panjang/pincuk) wkwk.

Beli ayam dada fillet super murah di sini

Bahan-bahan

  • 500 gr paha ayam boneless
  • Secukupnya daun pisang
  • 1 pcs jeruk nipis/lemon
  • 8 butir bawang putih
  • 8 butir bawah merah
  • 8 pcs cabai merah
  • 5 pcs cabai rawit merah
  • 5 pcs kemiri
  • 1/4 sdt bubuk kunyit
  • 1/4 sdt penyedap rasa
  • 1/4 sdt garam
  • 1 pcs laos
  • 4 batang serai
  • 4 pcs daun salam
  • 1 ikat atau sekitar 100gr daun kemangi, sesuai selera, tapi di sini kunci nikmatnya.
  • 1 pcs tomat
  • Secukupnya daun bawang

Cara membuat

  • Pertama-tama marinasi dulu daging ayam dengan perasan jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis selama 20-30 menit.
  • Haluskan bumbu-bumbu menjadi satu (bawang merah, bawang putih, kemiri, garam, kunyit, penyedap rasa hingga cabai-cabaian). Sisakan beberapa biji cabai rawit merah utuh untuk dimasukkan ke dalam pepesan nantinya.
  • Lalu tumis bumbu halus sampai harum dengan api sedang. Jangan pakai api besar ya karena bakal cepat gosong.
  • Geprek laos, serai dan masukan ke dalam tumisan, tambahkan juga daun salam.
  • Jika bumbu-bumbu sudah semakin harum dan berubah warna jadi agak gelap matikan api. Lalu masukkan ayam, daun kemangi dan daun bawang sambil diaduk-aduk.
  • Jika semua sudah tercampur merata, siapkan lembaran daun pisang dan bungkus daging ayam berbentuk pepesan yang ditambahkan potongan tomat serta cabai rawit merah.
Hehe.. ternyata susah bungkusnya😑

Gak tau ah susah bungkusnya *mode bang mursid alias nyerah*

Udah begini sajalah, gak bisa saya bungkusnya😤
  • Oke gapapa kita skip saja drama bungkus-membungkusnya. Daun pisang tetap bisa saya gunakan dengan cara dihamparkan sebagai alas dan di atas untuk menutupi seluruh panci kukusan seperti di gambar. Selanjutnya kukus daging ayam selama 40-45 menit. 
Agar uap air tidak menetes, tutup panci diberi kain.

Dengan segala drama bungkus-membungkus akhirnya voilaaa... pepes ayam kemangi siap disajikan. Mohon maaf atas kekurangan dalam proses pembuatan, tapi saya jamin soal rasa sudah pasti juara. Yuks coba recook! Atau kalau teman-teman punya tips cara membuat bungkusan pepes, boleh banget yaa dikomen di bawah😏 

Share on:

Baru - baru ini, abang saya satu-satunya, Mas Adhit, berulang tahun yang ke 35. Sebagai adik, saya sih gak ngasih apa-apa wkwk. Entah ini dibilang rezeki atau bukan, tapi ternyata dia mendapat "suatu hadiah" yang gak diduga-duga. Siapa sangka, beliau malah diutus jadi ketua RT secara aklamasi (terpilih karena udah gak ada pilihan lain lagi)😁
Jadi sebelumnya, Mas Adhit itu menjabat sekretaris RT. Namun, ketua RT kami sebelumnya, Pak Aris, baru saja wafat beberapa minggu lalu. Jujur, ketika mendapat kabar ketua RT kami yang sebelumnya meninggal dunia, rasanya sedih dan kaget, karena terakhir bertemu almarhum kondisinya terlihat baik-baik saja. Ditambah lagi almarhum adalah orang yang baik dan banyak membantu keluarga kami ketika kesulitan. 
Mas Adhit yang pertama kali menginformasikan berita duka ini awalnya memang terlihat sedih. Namun seketika raut wajahnya justru menjadi linglung (lebih ke planga-plongo) "gue bakal jadi ketua RT nih". Mendengar ucapannya itu, saya baru tersadar dan sedikit tergelitik karena iya juga, siapa lagi yang bakal gantiin almarhum Pak Aris kalau bukan dia. 
Apakah tidak ada wakil RT? Gak ada. Jadi urutannya Ketua, Sekretaris dan Bendahara RT. Apakah tidak ada yang mau mencalonkan diri? Benar-benar gak ada, gak ada yang mau lebih tepatnya.
Ditambah lagi, Mas Adhit itu dedicated freelance sebagai graphic designer yang kerjanya remote, fulltime di rumah sebagai bapak rumah tangga, bukan pekerja kantoran (dulu iya, tapi cuma bertahan satu tahun karena gak betah punya bos katanya). Ya gayung bersambut, terpantau warga pun juga sebagai lelaki bak pengangguran yang luntang lantung, dialah yang akhirnya ditetapkan sebagai ketua rukun tetangga.
Anehnya, sebelum kepergian almarhum Pak Aris, almarhum sempat memberikan satu tas berisikan berkas dan ATK RT kepada Mas Adhit. Sekaligus beliau izin pamit untuk pulang kampung ke Yogyakarta (Qadarullah, almarhum wafat di kampung halamannya). Pikir Mas Adhit, oh mungkin kalau-kalau warga butuh dokumen/tanda tangan dari RT biar gak repot. 
Bisa jadi ini salah satu firasat almarhum sebelum meninggalkan dunia, menyerahkan tongkat estafet kepemimpinannya untuk digantikan oleh abang saya.

Lelaki (menuju) paruh baya ini berkelahi dengan aspirasi akamsi

Belum ada sebulan menjabat sebagai ketua RT, Mas Adhit banyak mendapatkan aspirasi dari warga untuk menyelesaikan beberapa masalah. Mulai dari keamanan lingkungan, kebersihan, konflik antar warga sampai masalah speaker masjid. 
Yah.. walau nampak banyak cengengesannya, saya yakin Mas Adhit bisa menjadi "sosok" pemimpin yang amanah. Setidaknya, untuk kemaslahatan banyak orang dia gak akan bercanda. Bertahun-tahun hidupnya gak jadi apa-apa, mungkin ini saatnya ia berkontribusi buat negara. Sesimpel menjaga kerukunan antar tetangga😁
Share on:
Setiap kali mendapatkan penugasan keluar kota dari kantor, saya selalu nothing to lose, ya Alhamdulillah, tujuannya memang sekadar untuk bekerja. Selalu memohon perlindungan Allah SWT agar setiap langkah saya dan tim yang berangkat diberikan kelancaran, kemudahan dan sampai bisa kembali ke rumah.
Bolak balik ke Bandung, Palembang, Makassar, sepertinya sudah biasa. Namun di bulan Juli tahun ini sedikit berbeda karena kali pertama saya berkunjung ke Nusa Tenggara Barat.

Kalau untuk agenda training, mayoritas timnya rata-rata Bapak-Bapak. Kali ini saya mendapat kesempatan ke Mataram bersama Mba Ica dan Mba Khansa untuk agenda FGD salah satu BUMD syariah di NTB.

Seringkali agenda pekerjaan yang begitu padat, sangat sulit buat saya dan tim untuk sempat berjalan-jalan. Ya, saya sendiri (jujur) ikut-ikut saja, bisa sempat jalan-jalan ayuk, ngga pun juga gak papa. Namun setidaknya, sebelum balik ke Jakarta, biasanya saya dan tim suka menyempatkan beli sedikit oleh-oleh saja.

Beberapa hari di Mataram dan seluruh agenda pekerjaan sudah terlaksana, ternyata masih ada spare waktu bagi kami pada saat itu untuk berjalan-jalan sejenak. Didukung oleh fasilitas yang diberikan klien untuk mengantarkan kami berkeliling kota NTB meski tidak lama. Kami diajak untuk berkeliling ke daerah wisata Mandalika. Kami warga Jakarta yang baru pertama kali ke daerah ini takjub karena MashaAllah begitu indahnya. Ditambah rasa syukur saya pribadi karena rasa-rasanya ini kali pertama business trip bisa sembari berkelana.

Tapi memang begitu kan, ya, konsep rezeki dari Tuhan yang gak pernah disangka-sangka?😁




Share on:
Awalnya saya gak terlalu tertarik dengan makanan yang teksturnya creamy atau terdapat bahan-bahan dari olahan susu atau krim. Mungkin karena lidah ini terbiasa dengan sajian khas Indonesia yang penuh rempah-rempah, ya. Jadi begitu mencoba hidangan internasional ala-ala, ternyata gak terlalu ngeklik di lidah. Sama ketika pertama kali saya mencoba pasta fettucini carbonara di salah satu resto di Jakarta.

Kalau untuk resep originalnya, Creamy Fettucine Carbonara sebetulnya kombinasi pasta dengan telur, bacon dan bawang putih. Pasta fettucini carbonara yang saya santap waktu itu pastinya halal ya, non pork, jadi untuk dagingnya diganti dengan potongan smoked beef. Rasa creamy-nya begitu kental dan  saya merasa cukup yakin resep orisinilnya memang seperti ini. Meski rasanya masih agak asing, tapi masih tetap bisa disantap (kalau disuruh repeat order, maaf gak dulu😂).

Sebab, kalau dibandingkan dengan sajian pasta lainnya yang masih sering saya santap, ya.. tidak jauh-jauh dari Spaghetti Bolognaise. Kombinasi rasa saus tomat bolognaise masih terasa enak menurut lidah saya. 



Karena beberapa kali lihat VT masak-masak, salah satunya untuk hidangan pasta, saya cukup penasaran buat recook creamy fettucine carbonara. Jadi saya mencoba recook dengan bahan-bahan yang ada di rumah dan ternyata hasilnya enaaaaa😭. Mungkin gak seorisinil resep aslinya, tapi menurut saya rasanya masih sangat bisa disesuaikan dengan lidah orang Indonesia seperti saya. Langsung saja simak di bawah spill resep lengkapnya~ 

Bahan-bahan

  • 150 gr pasta fettucine (untuk 1 porsi)
  • 500ml air untuk merebus pasta
  • 2 sdm olive oil/minyak goreng
  • 2pcs bawang putih
  • 1/2pcs bawang bombay
  • 100 ml susu UHT full cream (boleh juga menggunakan cream)
  • 1/2 sdt garam
  • 1/2 sdt lada
  • 1 slice smoked beef
  • 1 sdt keju parmesan
  • 1 sdt keju cheddar
  • 1/2 sdt Parsley (harusnya Oregano, tapi adanya ini😏)

Cara membuat

  • Rebus air sampai mendidih, tambahkan sedikit garam dan minyak untuk merebus pasta agar tidak lengket.
  • Rebus pasta selama 5-10 menit, jangan sampai terlalu matang/lembek karena nanti akan dimasak kembali bersama saus pasta. Jika sudah makan, tiriskan.
  • Iris halus bawang putih, bawang bombay dan tumis sampai harum menggunakan olive oil.
  • Masukkan smoked beef untuk ditumis bersama bawang.
  • Masukkan susu UHT ke dalam tumisan. Jika ingin tekstur creamy yang lebih kental bisa tambahkan 1 sdt tepung maizena untuk menambah kekentalan.
  • Jika sudah mendidih dan air sudah sedikit menyusut, masukkan semua pasta.
  • Taburkan secukupnya keju parmesan, cheddar dan parsley. Jika ingin agak pedas bisa tambahkan lada dan garam (opsional).

Voilaaa! Creamy Fettuccine Carbonara siap disajikan. Sajian pasta ini berbeda dengan Spaghetti Bolognaise/Tuna yang bumbunya dapat disajikan terpisah dan tinggal disiram ketika mau dimakan. Sehingga  Creamy Fettuccine Carbonara ini harus langsung disantap selagi hangat-hangat ya. Jadi ayoo coba recook juga!

Beli pasta Fettucine di sini
Share on:
Happy World Bicycle Day!

Masih dalam rangka World Bicycle Day yang diperingati tanggal 3 Juni setiap tahunnya. Saya si FOMO pesepeda turut bersemangat merayakan ini 😁

Dilansir dari WHO, bersepeda menjadi salah satu tools olahraga sekaligus alat transportasi yang simple, terjangkau dan ramah lingkungan. Ditetapkannya World Bicycle Day juga menjadi wujud advokasi agar mendorong para pemangku kepentingan untuk mendukung penggunaan sepeda hingga penyediaan sarana, yang nantinya akan berdampak pada pembangunan berkelanjutan, memperkuat pendidikan jasmani dan tentunya manfaat pada kesehatan. 

Saya pun mutualan dengan beberapa orang di Strava yang rata-rata usianya itu mungkin seusia Bapak/Ibu pensiunan😁. Tapi yang bikin salut, mereka masih tetap semangat dan terus update aktivitas gowes mereka yang hampir dilakukan setiap hari. 

Meskipun saat ini saya belum join komunitas (hopefully soon), setiap kali gowes sering banget ketemu sama rombongan gowes yang mostly orang-orang tua. Ah, rasanya jadi malu kalau masih malas-malasan. Jadi ya.. harapan terbesarku ke depannya, (setidaknya) konsistensi dalam bersepeda harus terus terjaga. Keep moving! Let's go(wes)!🚴
Share on:
Let me spill the recipe😋
Tumis daging buncis

Bubur sumsum

Tahu cabe garam

Share on:
Ramadhan tidak menunggu kita siap, ia datang begitu cepat, pun sampai ia pergi dari hadapan. 
Tanpa terasa waktu banyak terlewatkan, bucketlist yang menjadi target capaian di bulan yang penuh keberkahan ini pun seringkali menjadi terabaikan.
Puasa terpenuhi selama satu bulan, tarawih yang tidak pernah terlewatkan, Khatam Al-Qur'an sampai ke sekian. Namun ketika masanya usai, sungguh sulit menjaga keistiqomahan.
 
Lantas selanjutnya, apa yang mau kita bawa selepas dari Ramadhan?

17 Ramadhan 1445 H
Share on:
Tulisan ini dibuat H-1 sebelum Pemilu 2024. Tidak memihak ke pihak manapun dalam kontestasi Pilpres tahun ini. Bukan tiba-tiba sok politis atau sedang gerilya menjadi timses juga kok, hihi👀
Hanya ingin mendedikasikan tulisan ini buat anak-anak muda keren yang telah merangkum "ruwetnya" politik menuju Pemilu 2024 menjadi hal yang asik dan dimuat dalam satu platform independen bernama Bijak Memilih📌.
Bijak Memilih menggunakan design platform yang sangat fresh dan colorful
Bijak Memilih sendiri merupakan gerakan independen yang diinisiasi Think Policy-nya Afutami dan What Is Up, Indonesia-nya Abigail Limuria. Buat yang suka ngikutin isu-isu sosiopolitik hingga kebijakan publik di sosial media pasti gak asing sama dua cewek kece ini.
Menurutku, Bijak Memilih menjadi wadah yang seru banget buat bikin kita lebih "melek politik" dan raising awareness untuk lebih kritis dalam memilih pemimpin bangsa di masa depan. 
Ketika publik sudah mulai lelah dan muak sama black campaign, forwarded message hoax di WA keluarga sampai baliho-baliho caleg di pinggir jalan. Bijak Memilih dirasa menjadi es teh jumbo di tengah padang pasir😂.  
Bayangin, ketika kita bingung, bimbang dan bahkan ada kecenderungan buat golput, Bijak Memilih berusaha untuk mengedukasi kita in a fun way. Apalagi mayoritas pemilih itu berada di generasi muda. Di sini kita diajak untuk paham, atau setidaknya aware-lah sama isu-isu yang berkaitan dengan kebijakan publik, mengenal partai politik yang nantinya bakal menampung aspirasi kita (soal ini aku masih hopeless jujur😂) dan mempelajari lebih dalam soal kandidat-kandidat yang ada.

Agak pusing bacanya tapi seru kok😂
Setelah menjelajahi Bijak Memilih, aku pribadi yang mungkin selama ini apatis - menjadi - oh iya juga sih. Oh paslon ini didukung partai ini, pantes aja begini. Oh paslon ini support hak-hak sipil. Oh paslon ini menolak kebijakan ini - dan masih banyak lagi respon ter-oh-oh lainnya, saking merasa tidak pernah terpapar dengan masalah politik😅.
Belajar soal Pemilu bisa semenyenangkan ini😃
Setiap paslon gak ada yang sempurna, yakin deh. Masing-masing punya kelebihan, kelemahan, rekam jejak sejarah dan bahkan "kepentingan" masing-masing. Bandingkan satu persatu visi-misinya sampai afiliasi para pendukungnya. Pilihlah "yang paling mending" dan dirasa paling ideal menurut hati kalian untuk memimpin bangsa ini.
Mau 1, 2, 3 silakan pilih sesuai hati. Kedepankan Asas LuberJurdil (OMG jadi ingat pelajaran PPKN zaman SD dulu😋). Beda pilihan silakan. Tapi jangan sampai menimbulkan permusuhan. Don't spread hate and hoaxes. Walaupun kamu pendukung salah satu paslon garis keras, please, gunakan kewarasanmu untuk tetap mendukung sewajarnya saja.
Klik gambar, cobain Riddle Quiz-nya!
Akses juga Riddle Quiz-nya kolaborasi Bijak Memilih dan Kawula17. Dari kuis ini, minimal, kita bisa tahu kira-kira partai apa sih yang ideologinya itu relate sama concern kita. Kebetulan Top 3 partai yang "cenderung relate" sama pemilihan sikap dan concern-ku ada di PDIP, PKS dan PKB😆. Coba deh, kalau kamu apa?
-----•°♪°•------
Sekali lagi dan sebagai penutup, a big shout out to Bijak Memilih All Team! Pesanku buat kalian cuma satu, tetaplah menjaga independensi dan mengedukasi (kalau bisa jangan berubah haluan jadi partai politik, ah😋). 
Mari rayakan pesta demokrasi tahun ini dengan gembira, cermat dan sebijak mungkin.
Karena pilihan kita saat ini bakal berdampak sama negeri dan diri kita sendiri "kira-kira 5 tahun ke depan mau jadi apa sih?".
Share on:

Kulineran bareng yuk di Bango Warisan Kuliner #BangkitkanSejutaRasa Kuliner Nusantara di FJB 2023, GRATIS. Segera daftar buat dapat tiketnya di sini ya! Pastikan kalian mendapatkan barcode dan berkesempatan dapat hadiah voucher makan sampai VIP Pass.

Sayangnya event ini cuma berlangsung selama 3 hari dari 27-29 Oktober 2023. Jadi buat kalian yang mau cobain kuliner khas Indonesia buruan datang ya. Lokasinya di Parkir Timur Senayan GBK Jakarta.

FJB tapi bukan Forum Jual Beli Kaskus😆
Gue datang di hari pertama (Jum'at), personally gue mengarah antisipasi crowded-nya karena acara ini cuma berlangsung 3 hari, jadi pasti di Sabtu-Minggu bakal lebih ramai dan padat. 
Day 1! Lumayan ramai tapi belum terlalu crowded
Untuk akses transportasi ke sini sendiri, menurut gue paling enak menggunakan Transjakarta. Buat yang biasa jalan kaki kayak gue, untuk masuk ke dalam venue cukup dekat hanya butuh waktu sekitar ±15 menit atau sekitar 600m. 
Bagi yang menggunakan moda KRL atau MRT kalian perlu transit dulu dan lanjut naik ojol supaya bisa langsung tiba di lokasi.
  1. Transportasi online (ojol), langsung pilih tujuan Plaza Parkir Timur Senayan dan masuk di gate Plaza Parkir Timur.
  2. Transjakarta, naik koridor 1/3F turun di halte GBK/GBK 2 atau Polda Metro Jaya.
  3. KRL, bisa turun di stasiun Palmerah atau Sudirman lalu langsung lanjut ojol kalau mau cepat.
  4. MRT, turun di Istora Mandiri, lanjut jalan kaki ke Parkir Timur Senayan.
  5. Kendaraan pribadi, info dari Instagram @bangowarisankuliner, kalian bisa parkir di Aquatik (motor) atau Parkir Timur Utara (mobil).
Cobain ragam kuliner Legend di sini!
Gue gak bisa sebutin satu-satu ada venue apa aja di sini. Tapi yang pasti ada ratusannnn tenant, nah bingung gak lo mau pesan apa😭 Kayak mau beli ini beli itu coba ini coba itu tapi perut gak sanggup, dompet juga gak sanggup jajan sebanyak itu😆
Jadi, buat yang penasaran dan mau listing kuliner yang mau dicoba bisa cek di website Bango ya!
Mari makan!
Berhubung gue belum makan dari pagi, tapi lagi gak mau nasi okee kita coba kuliner legend Kupat Tahu Gempol Bandung. Oh iya, jangan lupa setiap pembelian makanan di masing-masing tenant, mintakan stamp yaa. Jika terkumpul 6 stamp kalian bisa reedem dengan hadiah produk dari Unilever.
Yummy!
Cuman foto orang lagi makan😏
Ketemu banyak seleb dan food vlogger juga di sini. Jangan diganggu minta foto-foto, soalnya mereka lagi makan sama bikin konten wkwk.
Beli ini dulu, ngarah hadiah kipasnya😆
Btw di sini itu panas banget, karena selain ramai orang juga efek makan dan kekenyangan😂 Menurut gue perlu ada penambahan blower di area tempat makannya. Nah, kebetulan ada stand Walls beserta Fortune Wheels berhadiah Ice Cream sampai Kipas dengan syarat minimum pembelian 15K. Wish me luck mau kipas, mau kipas, and gotcha!😆

Tenant-nya banyak banget, bingung mau jajan apa😂
Untuk harga makanan di sini menurut gue cukup standar di kisaran 30.000-50.000 per porsi. Siapkan pembayaran cash maupun QRIS. Saran gue cash aja, karena kalau lagi crowded begini riskan susah sinyal.
Di lokasi acara juga tersedia mushola walau space-nya kecil, toilet dan wastafel. Sayangnya beberapa wastafel gak keluar airnya😂 Ini cukup krusial menurut gue karena pasti orang bakal butuh cuci tangan, baik sebelum atau setelah makan.
Nemu Pallu Basa, jadi inget pernah makan ini pas lagi di Makassar😋
Nyobain iga bakar legend Si Jangkung Bandung
Sebentar, makan dulu~
Setelah yang berat-berat, dessert dulu~
Makanan favorit Yayang Sadam😆
Gelatoooo🍧
Terima kasih FJB! Sampai bertemu di tahun berikutnya✨
Ragam kuliner khas Indonesia bisa kalian temukan di sini. Mulai dari nasi, mie, bakso, soto, sate-satean, snack, dessert dan masih banyak lagi. Untuk info lengkap Festival Jajanan Bango 2023, kalian bisa langsung cek di Instagram Bango Warisan Kuliner.

Sekian dulu pengalaman gue selama Jalan Jajan di FJB Jakarta. Overall 8/10, karena belum ada kesempatan keliling Indonesia buat cobain makanan di masing-masing daerah, Festival Jajanan Bango ini bisa jadi destinasi jelajah warisan kuliner terbaik 👌 Silakan datang dan bagikan cerita kalian di kolom komentar di bawah ya!
Share on:
  • ← Previous post
  • Next Post →
  • Menulis dan berbagi, agar tak tergerus akal imitasi
  • Pembelajar seumur hidup
120x120

ldhena

Author

TULISAN LDHENA

Menulis bersama LDHENA

Terfavorit

  • My Sweet and Lovely 17th
    Waa ternyata udah kelewat ± 51 hari dari hari ulang tahun gue 9 November 2012 haha. Banyak loh yang pengen gue ceritain. Di tahun ini us...
  • Review Film : 1 Kakak 7 Ponakan
    Beberapa kali menonton karya Yandy Laurens, rasanya gak pernah mengecewakan. Mulai dari web series Sore, film Keluarga Cemara sampai Jatuh C...
  • Jeda Ramadhan
    Jelang hari raya Idul Fitri, hiruk pikuk kesibukan di rumah dimulai. Hari itu Bapak sibuk memperbaiki keran dan aliran air yang mampet. Kare...
  • Still Waiting
    Waa Bloogie!!  Akhirnya setelah beberapa bulan lalu baru hari ini gue mulai ngepost lagi. Last time gue ngepost itu pas mau taun...
  • Jurnaldhena's Cooking 101 - Edisi Ramadan
    Let me spill the recipe😋 Tumis daging buncis Bubur sumsum Tahu cabe garam

NGL - ANONIM

TANYA!

Kumpulan Goresan

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • Jeda Ramadhan
  • ►  2025 (7)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2024 (10)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2023 (7)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Oktober (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2019 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2017 (3)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2012 (4)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)

BLOGGER PEREMPUAN NETWORK

INDONESIAN BLOGGER COMMUNITY

Statistik

Profile Linkedin Facebook Twitter Tiktok Instagram

ldhena

༻✿༺

Created By SoraTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates Vector by Freepik